KATHMANDU, PosNusantara.com – Di balik keindahan Himalaya yang menjulang, Nepal menyimpan dua spesies bison ikonik yang kini berada dalam tekanan besar. Populasi mereka terus menyusut di bawah bayang-bayang hilangnya habitat, banjir, perburuan liar, dan ancaman kepunahan. Dua “raksasa” ini adalah Gaur (Bison Asia) dan Kerbau Liar Asia (Arna) , yang perjuangan hidupnya menjadi cerminan krisis konservasi di Asia Selatan.
Meski populasinya terus menurun, kabar baik datang dari Taman Nasional Chitwan. Seekor kerbau liar Arna melahirkan anak jantan pada Agustus 2026, menjadi secercah harapan di tengah ancaman kepunahan.
Gaur (Bison Asia): Raksasa Hutan yang Terancam Punah
Gaur, yang juga dikenal sebagai bison Asia, adalah spesies sapi liar terbesar di dunia.Hewan ini memiliki tubuh kekar dengan kulit berwarna coklat tua hingga kehitaman dan ciri khas “kaus kaki” putih di bagian kakinya.Mereka biasanya hidup dalam kelompok besar dan mendiami hutan serta padang rumput di kawasan Chure, Nepal.
Populasi yang Mengkhawatirkan
Saat ini, diperkirakan hanya ada sekitar 500 ekor Gaur yang tersisa di Nepal.Sebagian besar populasi ini terkonsentrasi di Taman Nasional Chitwan dan Taman Nasional Parsa.Populasi yang sangat kecil ini membuat mereka masuk dalam daftar “Rentan” (Vulnerable) oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Keberadaan Gaur sangat penting bagi ekosistem. Sebagai salah satu mangsa utama harimau, populasi Gaur yang sehat menjadi indikator ekosistem yang stabil dan mendukung kelangsungan hidup predator puncak tersebut.
Ancaman Utama
Populasi Gaur menghadapi berbagai ancaman serius yang terus menggerus jumlah mereka di alam liar:
-
Perusakan Habitat: Perambahan manusia, deforestasi, dan fragmentasi habitat terus mempersempit ruang gerak mereka.
-
Kehilangan Padang Rumput: Perubahan tutupan lahan serta kekeringan di kawasan Chure membuat akses terhadap sumber pakan semakin sulit.
-
Perburuan Liar: Meskipun dilindungi, perburuan ilegal masih menjadi ancaman.
-
Penyakit dan Persaingan: Kontak dengan ternak domestik meningkatkan risiko penularan penyakit dan persaingan memperebutkan sumber daya.
Kerbau Liar Arna: Populasi yang Terjebak di Koshi Tappu
Berbeda dengan Gaur yang tersebar di beberapa taman nasional, Kerbau Liar Asia (Arna) memiliki populasi yang lebih terbatas dan menghadapi tantangan yang bahkan lebih kritis. Spesies ini dikategorikan sebagai “Terancam Punah” (Endangered) oleh IUCN.
Satu-satunya Populasi Liar
Di Nepal, satu-satunya populasi liar Arna yang tersisa berada di Cagar Alam Koshi Tappu (Koshi Tappu Wildlife Reserve/KTWR).Cagar alam ini, yang juga merupakan situs Ramsar, menjadi benteng terakhir bagi spesies ini di Nepal.
Upaya konservasi telah dilakukan untuk menciptakan populasi kedua. Sebanyak 15 ekor Arna dipindahkan dari Koshi Tappu ke Taman Nasional Chitwan sekitar lima tahun lalu untuk membangun populasi baru.
Ancaman dan Perjuangan di Chitwan
Namun, perjalanan Arna di Chitwan bukannya tanpa rintangan. Sejak relokasi, populasi Arna di sana telah mengalami pasang surut yang drastis. Dari 15 ekor yang dipindahkan, enam ekor di antaranya mati karena penyakit dan serangan harimau.
Ancaman terbesar bagi Arna di habitat barunya adalah:
-
Banjir: Bencana alam ini telah merenggut nyawa lima ekor Arna dalam satu kejadian.
-
Predasi: Harimau adalah predator alami yang memangsa Arna.
-
Ketidaksesuaian Habitat: Arna kesulitan beradaptasi dengan lingkungan buatan yang berbeda dari habitat aslinya di sungai Koshi.
Kilas Harapan: Kelahiran di Taman Nasional Chitwan
Di tengah ancaman yang membayangi, kabar baik datang dari Taman Nasional Chitwan. Pada 31 Juli 2026, seekor kerbau liar Arna melahirkan anak jantan.Sebelumnya, seekor Arna lain juga telah melahirkan anak betina pada 16 Agustus 2026.
Kelahiran ini menjadi sebuah pencapaian besar dalam upaya konservasi spesies tersebut.Dengan tambahan anggota baru ini, total populasi Arna di ruang terbuka Taman Nasional Chitwan kini mencapai 11 ekor.
Nasib Gaur dan Arna di Nepal adalah cerminan dari krisis keanekaragaman hayati yang terjadi di seluruh dunia. Spesies-spesies besar ini, yang menjadi puncak rantai makanan di ekosistemnya, kini bergantung pada upaya konservasi yang terencana dan berkelanjutan.
WWF Nepal telah meluncurkan Rencana Aksi Konservasi Kerbau Liar 10 tahun (2026-2035) untuk memastikan kelangsungan hidup spesies ini.Namun, tantangan seperti perubahan iklim, banjir, hilangnya habitat, dan konflik dengan manusia masih menjadi momok yang mengancam.
Kelahiran anak Arna di Chitwan adalah simbol bahwa upaya konservasi dapat membuahkan hasil. Namun, perjalanan masih panjang. Masa depan Gaur dan Arna, dua “bison” Nepal, bergantung pada komitmen kita untuk melindungi alam liar yang tersisa di bumi ini.
📝 PosNusantara.com — Cepat · Akurat · Terpercaya














