BANDA ACEH, PosNusantara.com – Provinsi paling barat Indonesia, Aceh, kini berada dalam pusaran ketegangan yang kompleks. Di satu sisi, masyarakat sipil mengibarkan bendera putih sebagai simbol keputusasaan atas pemulihan pascabencana yang dinilai lambat. Di sisi lain, peringatan 21 tahun perdamaian Aceh pada 15 Agustus 2026 justru berakhir ricuh, memicu bentrokan dan memori kelam konflik masa lalu.
Bendera Putih: Simbol Keputusasaan dan Tuntutan
Pada Jumat (14/8/2026), puluhan warga yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil Peduli Bencana mengibarkan bendera putih di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Aksi ini merupakan desakan agar pemerintah pusat segera menetapkan bencana ekologis Aceh-Sumatera sebagai bencana nasional.
Koordinator aksi, Rahmad Maulidin, menyatakan bahwa hampir sembilan bulan pascabencana banjir besar akhir November 2025, pemulihan belum berjalan maksimal. “Pembersihan lumpur sisa banjir belum maksimal, sungai masih dangkal, sawah dan kebun warga belum tertangani,” ujarnya. Ia juga menyoroti bahwa “akses jalan dan jembatan sebagai jalur ekonomi, pendidikan, dan kesehatan – masih darurat”. Bahkan, fasilitas sekolah masih banyak yang beroperasi di tenda darurat.
Mereka menilai kebijakan pemerintah tidak jelas dan terarah, sehingga berdampak pada ketidakpastian anggaran dan mekanisme pelaksanaan. Meskipun pemerintah telah menyiapkan anggaran sekitar Rp100,1 triliun untuk periode 2026-2028, para pengunjuk rasa menilai implementasinya belum terlihat di lapangan.
Menanggapi hal ini, Kepala Posko Wilayah Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR), Safrizal ZA, menegaskan bahwa Aceh telah melewati masa tanggap darurat dan transisi darurat. Sejak 1 Agustus 2026, Aceh memasuki fase rehabilitasi dan rekonstruksi. Ia mengklaim pemerintah telah bekerja maksimal dan memulihkan sejumlah layanan publik. Namun, ia juga mengakui bahwa proses ini baru dimulai dan belum selesai 100 persen.

Hari Damai Berujung Ricuh: Trauma Konflik Kembali Terbuka
Ketegangan memuncak sehari setelah aksi bendera putih, tepatnya pada peringatan 21 tahun perdamaian Aceh, Sabtu (15/8/2026). Acara zikir dan doa bersama di Masjid Raya Baiturrahman berubah menjadi kericuhan.
Kericuhan dipicu ketika seorang pemuda mengganti bendera Merah Putih dengan bendera bulan bintang. Aparat TNI yang berjaga melarang pemasangan dan melepaskan tembakan peringatan. Suara tembakan memicu kemarahan massa, yang kemudian melempari aparat dengan batu.
Situasi semakin kacau. Massa mengejar personel TNI hingga ke luar area masjid. Polisi merespons dengan gas air mata dan semprotan air. Dalam insiden ini, satu unit sepeda motor milik aparat TNI dibakar massa, dan seorang peserta aksi dilaporkan mengalami luka di kepala.
Koordinator KontraS Aceh, Azharul Husna, mengecam tindakan represif aparat. Ia menilai kejadian ini bukan peristiwa tunggal, melainkan akumulasi kekecewaan masyarakat yang panjang, termasuk kegagalan penanganan pascabencana. “Pelepasan tembakan ke udara dan penggunaan kekerasan lainnya seharusnya tidak perlu dilakukan,” tegasnya.
Kapolda Aceh, Irjen Pol Ruddi Setiawan, turun langsung ke lokasi untuk menenangkan massa dan membebaskan sejumlah warga yang diamankan.
Kini, Aceh berada di persimpangan jalan yang sulit. Di satu sisi, ada kebutuhan mendesak untuk mempercepat pemulihan fisik dan ekonomi pascabencana yang masih menyisakan duka. Di sisi lain, insiden di Hari Damai menunjukkan bahwa luka masa lalu masih membekas dan trauma konflik dapat dengan mudah terbuka kembali. Kondisi ini mengingatkan kita pada bayang-bayang darurat sipil yang pernah melanda Aceh di masa lalu, di mana ketegangan antara masyarakat dan negara mencapai puncaknya.
Pemerintah pusat dan daerah dituntut untuk tidak hanya fokus pada angka-angka anggaran, tetapi juga pada penanganan yang humanis, transparan, dan tepat sasaran. Jika tidak, keputusasaan masyarakat yang diwakili oleh bendera putih dan kemarahan yang meledak di Hari Damai bisa menjadi siklus yang terus berulang, mengancam stabilitas dan perdamaian yang telah susah payah dibangun selama 21 tahun terakhir.
📝 PosNusantara.com — Cepat · Akurat · Terpercaya














