BANDUNG, PosNusantara.com – Fenomena bisnis minuman kekinian yang mengalami pasang surut drastis menjadi pemandangan yang akrab di Indonesia. Satu waktu sebuah merek digandrungi, tak lama kemudian gerainya berguguran. Di sisi lain, warung bakso sederhana di pinggir jalan mampu bertahan puluhan tahun, bahkan menjadi warisan turun-temurun. Mengapa ini bisa terjadi?
Perbedaan mendasar terletak pada posisi produk dalam kebiasaan konsumen. Bakso telah menjadi comfort food yang melekat dalam budaya makan masyarakat Indonesia, sementara minuman kekinian umumnya hanya menjadi tren sesaat yang rentan terhadap perubahan selera.
🍲 Bakso: Kebutuhan Pokok yang Tak Pernah Sepi
Bakso telah menjadi bagian dari kebutuhan pokok masyarakat Indonesia. Makanan ini bisa dikonsumsi kapan saja—pagi, siang, atau malam—dan dianggap sebagai makanan pokok pengganti nasi. Konsumen membeli bakso karena kebutuhan fisik untuk kenyang, bukan sekadar keinginan sesaat.
Keunggulan bisnis bakso:
-
Basis permintaan kuat: Konsumsi bakso sudah menjadi kebiasaan turun-temurun, sehingga permintaan cenderung stabil.
-
Modal relatif kecil: Bisa dimulai dengan modal sekitar Rp200 ribu untuk konsep sederhana.
-
Fleksibel dan adaptif: Bisa dijual dalam berbagai varian (bakso kuah, bakso bakar, frozen, cup) dan melalui berbagai kanal (warung, online, katering).
-
Pasar yang nyaris tidak pernah sepi: Hampir semua kalangan menyukai bakso.
-
Margin keuntungan menarik: Bisa mencapai 40–60% per paket.
Pengamat bisnis kuliner menilai bahwa tren kuliner seperti bakso kuah taichan berpotensi bertahan lama jika pelaku usaha fokus menjaga kualitas rasa. Bahkan, di Jawa Tengah, sekitar 17.500 pedagang bakso terus didorong untuk naik kelas melalui penguatan usaha dan sertifikasi halal.

🧋 Minuman Kekinian: Antara Tren dan Kejenuhan
Minuman kekinian (boba, es krim, kopi susu) tergolong produk indulgent—keinginan, bukan kebutuhan. Konsumen membelinya karena godaan (fear of missing out) atau sekadar untuk nongkrong.
Penyebab utama kegagalan bisnis minuman kekinian:
1. Ketergantungan pada Efek Viral
Kesuksesan awal sering didorong oleh strategi viral marketing. Namun, tren viral memiliki siklus hidup pendek. Saat euforia mereda dan konsumen bosan, pembeli mulai mencari alternatif baru.
2. Ekspansi Terlalu Cepat dan Pasar Jenuh
Strategi ekspansi agresif menyebabkan kejenuhan pasar. Konsumen merasa “biasa saja” karena produk terlalu mudah ditemukan. Sensasi eksklusif dan rasa penasaran hilang.
3. Lemahnya Manajemen Operasional
Kasus Menantea milik Jerome Polin menjadi contoh nyata. Bisnis minuman kekinian ini harus tutup seluruh gerai pada 25 April 2026 setelah mengalami kerugian hingga Rp 38 miliar.
Jerome mengaku kurang melakukan riset mitra, tidak rutin melakukan audit keuangan, dan bahkan menjadi korban penipuan dalam pengelolaan bisnisnya.
4. Persaingan yang Semakin Ketat
Pasar yang tadinya dikuasai satu-dua pemain kini dipenuhi banyak merek baru dengan konsep lebih kreatif. Banyak pelaku usaha kecil dan menengah yang kesulitan bersaing dengan merek-merek besar. Tingkat penutupan gerai minuman kekinian diperkirakan mencapai 20%.
5. Pergeseran ke Minuman Sehat
Kesadaran konsumen terhadap kesehatan meningkat. Hampir 80% konsumen kini memperhatikan kandungan gula dalam minuman. Mereka mulai memilih produk rendah gula, teh premium, atau minuman fungsional. Merek yang identik dengan minuman manis dan creamy mulai ditinggalkan.
6. Tekanan Ekonomi dan Daya Beli
Pelemahan ekonomi menekan kelas menengah ke bawah, yang merupakan target pasar utama minuman kekinian. Daya beli masyarakat yang melemah membuat konsumen mengurangi pengeluaran untuk produk indulgent. Volume penjualan minuman ringan bahkan tercatat minus 0,5% sepanjang 2025.
📊 Perbandingan Ringkas
| Aspek | Bakso (Habitual) | Minuman Kekinian (Indulgent) |
|---|---|---|
| Sifat produk | Kebutuhan pokok (kenyang) | Keinginan (kesenangan) |
| Basis konsumen | Stabil, lintas generasi | Fluktuatif, tergantung tren |
| Ketahanan | Tinggi (comfort food) | Rendah (rentan bosan) |
| Risiko utama | Konsistensi rasa | Perubahan selera & tren |
| Modal awal | Rendah – sedang | Sedang – tinggi |
| Manajemen | Relatif sederhana | Kompleks (franchise, supply chain) |
💎 Kesimpulan
Bisnis minuman kekinian sering tidak bertahan lama karena basis konsumsinya yang lemah. Ia dibangun di atas tren dan keinginan sesaat, bukan kebiasaan. Selain itu, manajemen yang kurang profesional dan persaingan yang ketat mempercepat keruntuhannya.
Sebaliknya, bakso bertahan karena telah menjadi bagian dari budaya makan masyarakat Indonesia. Ia adalah produk dengan permintaan yang stabil dan pasar yang luas.
Bukan berarti bisnis minuman kekinian pasti gagal. Dengan inovasi berkelanjutan, manajemen yang baik, dan adaptasi terhadap tren kesehatan, bisnis ini masih memiliki peluang untuk bertahan. Namun, pelaku usaha perlu belajar dari kegagalan yang telah terjadi, terutama dalam hal tata kelola keuangan dan riset pasar yang matang.
📝 PosNusantara.com — Cepat · Akurat · Terpercaya
Sate Wendys Tegal: Legenda Sate Kambing Muda yang Melegenda dan Jadi Langganan Para Artis














