JAKARTA, PosNusantara.com – Di Indonesia, fenomena organisasi masyarakat (ormas) yang mengenakan seragam loreng sudah menjadi pemandangan yang akrab di mata publik. Dari Pemuda Pancasila dengan loreng oranye khasnya, hingga Banser dengan motif loreng cokelat, seragam bergaya militer ini seakan menjadi “seragam resmi” bagi sejumlah ormas di Tanah Air. Namun, apakah fenomena ini hanya terjadi di Indonesia? Lalu, apa tujuan dan manfaatnya bagi masyarakat, serta bagaimana dampaknya bagi sistem pertahanan negara? Liputan khusus ini mengupas tuntas fenomena tersebut.
Sejarah dan Filosofi: Akar dari Masa Lalu
Fenomena ormas berloreng di Indonesia tidak muncul begitu saja. Ia memiliki akar sejarah yang dalam, terutama terkait dengan peristiwa politik pada masa lalu. Salah satu narasi yang kuat datang dari Pemuda Pancasila (PP). Sekretaris Jenderal PP, Arif Rahman, menjelaskan bahwa seragam loreng oranye bukanlah sekadar gaya, melainkan simbol perjuangan yang memiliki nilai historis. PP didirikan pada tahun 1958, pada masa ketika Indonesia dilanda gejolak politik dan ideologi. Menurut Arif, ormas ini didirikan oleh para petinggi TNI untuk menghalau kekuatan kelompok komunis pada saat itu . Identitas “semi-militer” ini melekat kuat dan diwariskan hingga generasi sekarang.
Hal serupa juga diungkapkan oleh Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) terkait pasukan Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Ketua PP GP Ansor, Dwi Winarno, menjelaskan bahwa motif loreng Banser yang didominasi warna cokelat dan krem telah ditetapkan sejak tahun 1960-an. Warna tersebut dipilih oleh para kiai, termasuk Gus Dur, sebagai representasi dari nilai-nilai kesederhanaan, membumi, dan perjuangan rakyat pada masa Agresi Militer Belanda . Bagi mereka, loreng bukanlah untuk meniru TNI, melainkan warisan sejarah perjuangan yang harus dijaga.
Makna dan Manfaat bagi Masyarakat
Di balik kontroversinya, penggunaan seragam loreng oleh ormas memiliki sejumlah makna dan manfaat, setidaknya bagi anggotanya.
1. Simbol Identitas dan Kebanggaan
Bagi anggota ormas, seragam loreng adalah simbol identitas yang membanggakan. Ini menjadi penanda keanggotaan dan kebersamaan dalam sebuah organisasi yang memiliki sejarah panjang. Seperti halnya seragam pramuka atau seragam sekolah, loreng menciptakan rasa memiliki dan solidaritas di antara para anggotanya. Klaim bahwa loreng adalah warisan dari para pendiri ormas—yang seringkali adalah tokoh-tokoh perjuangan—menambah nilai prestise dan legitimasi historis.
2. Kesan Kekuatan dan Wibawa
Seragam dengan motif camouflage atau loreng secara psikologis memberikan kesan tegas, kuat, dan terorganisir. Hal ini dapat menimbulkan rasa hormat sekaligus rasa segan dari masyarakat awam. Dalam beberapa kasus, penampilan ini juga dianggap penting untuk menunjukkan kesiapan dan kapasitas dalam menjalankan tugas-tugas sosial atau keamanan yang menjadi bagian dari peran ormas, seperti pengamanan acara atau bantuan kemanusiaan.

Dampak terhadap Pertahanan dan Ketertiban: Kontroversi yang Mengemuka
Meskipun memiliki makna historis dan identitas, fenomena ormas berloreng menuai kritik dan kontroversi, terutama dari pemerintah dan aparat penegak hukum.
1. Pelanggaran Hukum dan Kekhawatiran Penyalahgunaan Wewenang
Pemerintah melalui Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) melarang ormas menggunakan seragam yang menyerupai seragam TNI, Polri, atau aparat lainnya. Larangan ini bukanlah aturan baru, melainkan telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan (Pasal 59 ayat 1) yang menyatakan bahwa ormas dilarang menggunakan nama, lambang, bendera, atau atribut yang sama dengan lembaga pemerintah . Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya, menegaskan bahwa seragam adalah bagian dari atribut yang dimaksud .
Kekhawatiran utama adalah praktik ini berpotensi disalahgunakan. Ormas dengan seragam militeristik bisa bertindak seolah-olah memiliki kewenangan hukum seperti aparat, melakukan tindakan main hakim sendiri, atau melakukan intimidasi. Hal ini sejalan dengan Pasal 59 ayat 3 huruf d UU yang sama yang melarang ormas berfungsi seperti penegak hukum . Anggota DPR, Ahmad Sahroni, menyebut praktik ini telah lama meresahkan masyarakat dan membuat ormas merasa “selevel” dengan tentara dan polisi . Pengamat kepolisian dari ISSES, Bambang Rukminto, juga menyoroti perlunya larangan seragam camo untuk menghilangkan efek psikologis ketakutan masyarakat .
2. Potensi Konflik dan Kekerasan
Fenomena ormas berseragam loreng juga kerap dikaitkan dengan aksi kekerasan dan konflik antarormas. Misalnya, bentrokan antara Pemuda Pancasila dan Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) yang terjadi di Blora dan Bandung pada Januari 2025 menjadi contoh nyata bagaimana konflik ini mengganggu ketertiban umum . Dalam video yang beredar, terlihat gerombolan orang berseragam loreng melakukan penyerangan dan pengrusakan . Insiden seperti ini memperkuat argumen bahwa penggunaan seragam militeristik oleh ormas sipil dapat memicu eskalasi konflik dan mencoreng citra ormas itu sendiri.
3. Di Balik Loreng, TNI Justru Berbuat untuk Rakyat
Ironisnya, di saat ormas sipil berlomba mengenakan seragam loreng untuk menunjukkan identitas, seragam loreng yang asli justru digunakan oleh TNI untuk menjalankan fungsi kemanusiaan. Di berbagai pelosok negeri, prajurit TNI dengan seragam lorengnya hadir untuk membantu kesulitan rakyat. Contoh nyata terjadi di Desa Paniki Atas, Minahasa Utara, di mana anggota TNI turun langsung membantu warga menyalurkan beras murah dan mengangkat karung beras bagi ibu-ibu. Danramil setempat, Lettu Infanteri Stenly Andaria, mengatakan, “Kami bukan hanya tentara yang bertugas menjaga perbatasan atau keamanan negara. Kami juga bagian dari rakyat” . Di ujung Papua, Satgas TNI bahkan mengubah pos menjadi pasar dadakan bagi mama-mama Papua untuk berjualan hasil bumi, menciptakan kedekatan emosional dan kepercayaan antara prajurit dan warga .
Hanya di Indonesia?
Fenomena ormas memakai seragam militer bukanlah monopoli Indonesia. Di beberapa negara, kelompok paramiliter atau milisi sipil sering kali menggunakan atribut militeristik. Namun, di Indonesia, fenomena ini memiliki akar sejarah yang sangat spesifik, terkait dengan pembentukan ormas-ormas pada era Orde Baru sebagai alat mobilisasi politik dan keamanan . Kini, di era reformasi, praktik ini terus dipertahankan sebagai identitas, meskipun seringkali berbenturan dengan aturan hukum dan nilai-nilai ketertiban.
Kesimpulan
Fenomena ormas berseragam loreng di Indonesia adalah fenomena yang kompleks. Di satu sisi, ia merupakan warisan sejarah dan simbol identitas bagi sebagian ormas, yang konon lahir dari semangat perjuangan melawan komunisme. Seragam ini menjadi perekat solidaritas dan kebanggaan bagi anggotanya. Namun di sisi lain, praktik ini menimbulkan masalah serius karena berpotensi melanggar hukum, menimbulkan keresahan, dan memicu konflik. Pemerintah melalui Kemendagri telah berupaya menertibkan dengan mengacu pada UU Ormas yang sudah ada. Seragam loreng yang sesungguhnya tetap menjadi atribut resmi TNI, yang justru di balik seragam itu TNI hadir untuk melindungi dan melayani rakyat, bukan untuk menunjukkan kekuasaan.
📝 PosNusantara.com — Cepat · Akurat · Terpercaya















