JAKARTA, PosNusantara.com – Rapat demi rapat digelar, meja berganti, notulen bertambah. Tim BUMN terus menggelar pertemuan untuk membahas restrukturisasi besar-besaran di bawah koordinasi Danantara. Namun, di tengah hiruk-pikuk agenda ini, satu pertanyaan sederhana terus mengemuka: kapan hasilnya? Birokrasi jangan sampai membuat keputusan berjalan lebih lambat daripada masalah yang harus diselesaikan. Banyak rapat bukan ukuran keberhasilan. Hasil dan keputusanlah yang menentukan.
📊 Efisiensi Rp50 Triliun: Klaim atau Kenyataan?
Presiden Prabowo Subianto dalam pidato kenegaraannya pada 14 Agustus 2026 mengklaim bahwa transformasi BUMN yang dilakukan Danantara telah menghasilkan efisiensi keuangan negara lebih dari Rp50 triliun. Penghematan tersebut berasal dari perampingan struktur perusahaan dan penutupan 290 BUMN yang tidak produktif.
“BUMN adalah milik seluruh rakyat Indonesia. Bukan milik direksi. Bukan milik komisaris. Bukan pula sumber dana bagi penguasa,” tegas Prabowo.
Namun, pertanyaan yang muncul adalah: apakah angka ini benar-benar mencerminkan efisiensi yang dirasakan di lapangan?
🚨 Birokrasi Panjang: Kekhawatiran Kadin
Di balik klaim efisiensi, muncul kekhawatiran dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. Wakil Ketua Umum Kadin, Aviliani, menilai keberadaan Danantara justru memperlambat kinerja investasi BUMN.
“Dengan adanya Danantara, keterlibatan BUMN sekarang itu jadi sangat lambat untuk berinvestasi. Karena semuanya harus lewat Danantara, jadi birokrasinya jadi lebih panjang,” ujar Aviliani dalam Katadata Policy Dialogue.
Ia menambahkan bahwa BUMN idealnya tetap diberi ruang untuk berinvestasi secara mandiri meski telah ada Danantara. Ironi ini menunjukkan bahwa ada celah antara semangat efisiensi dan realitas birokrasi yang justru semakin berlapis.
🏛️ Meeting Maraton: Kerja Keras atau Simbol Aktivitas?
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade mengakui bahwa para pimpinan Danantara melakukan rapat maraton dari pagi sampai malam untuk mengecek kinerja dan melakukan restruk

turisasi BUMN. Bahkan, ia menyatakan pimpinan Danantara layak mendapatkan penghargaan atas kerja keras tersebut.
Namun, perlu dipertanyakan: seberapa besar hasil dari meeting maraton tersebut dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan?
“Dia bekerja sangat keras untuk membenahi BUMN dan kami diberikan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) oleh mereka untuk memantau, mengawasi dan juga memberikan masukan,” kata Andre.
📈 Hasil yang Mulai Terlihat, Tapi Masih Ada Pekerjaan Rumah
Beberapa hasil positif memang mulai terlihat. Sejumlah BUMN mencatatkan lonjakan laba signifikan di bawah naungan Danantara:
-
PT Timah: 804,7%
-
PT Semen Indonesia: 408,9%
-
PT Pupuk Indonesia: 252,8%
-
Pertamina: 86%
-
Pegadaian: 84,4%
Dua BUMN yang sebelumnya merugi, yakni Krakatau Steel dan Kimia Farma, juga berhasil mencetak laba.
Namun, di sisi lain, larangan rangkap jabatan menteri di direksi BUMN telah disepakati sebagai tindak lanjut Putusan MK. Ini adalah langkah positif untuk mencegah politisasi BUMN, namun implementasinya masih perlu diawasi.
🎯 Rekomendasi: Evaluasi dan Sinkronisasi Kebijakan
-
Transparansi Rapat dan Keputusan: Rapat demi rapat harus menghasilkan keputusan yang jelas dan terukur, bukan sekadar notulen tambahan.
-
Pemantauan Efektivitas Meeting: Jumlah rapat harus sebanding dengan output keputusan strategis. Perlu ada evaluasi berkala apakah meeting efektif atau hanya simbol aktivitas.
-
Sinkronisasi dengan Kadin: Kekhawatiran Kadin tentang birokrasi panjang harus menjadi bahan evaluasi serius bagi Danantara.
-
Fokus pada Hasil, Bukan Proses: Seperti yang dikatakan Prabowo, BUMN harus dikelola sebagai aset negara yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Proses meeting maraton harus berorientasi pada hasil nyata, bukan sekadar formalitas.
Meeting, birokrasi, dan BUMN harus berjalan beriringan menuju satu tujuan: BUMN yang profesional, produktif, dan mampu menciptakan nilai tambah bagi rakyat. Efisiensi yang diklaim harus dirasakan di tingkat operasional, bukan hanya di atas kertas.
📝 PosNusantara.com — Cepat · Akurat · Terpercaya














