JAKARTA, PosNusantara.com – Sebuah fenomena unik tengah menjadi perbincangan hangat di jagat sepak bola nasional. Ketika Timnas Indonesia bermain di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), nyaris tidak ada pendukung dari Jawa Barat yang hadir untuk mendukung Garuda. Mereka lebih memilih untuk menonton Persib Bandung, bahkan jika pertandingan berlangsung di hari dan jam yang sama.
Fenomena ini bukan sekadar isapan jempol. Survei Litbang Kompas pada 1-5 Juli 2025 terhadap 400 responden di Jawa Barat mengungkapkan bahwa 75,3 persen responden merasa menjadi bagian dari pendukung Persib . Lebih mengejutkan, sebanyak 86,6 persen responden setuju bahwa Persib mewakili masyarakat Sunda, dan 88,3 persen menyatakan Persib mewakili identitas Jawa Barat.
Data yang Berbicara: Persib adalah “Timnas”-nya Orang Sunda
Kuatnya ikatan emosional antara warga Jawa Barat dengan Persib Bandung bukanlah hal baru. Survei Litbang Kompas tersebut menempatkan Persib bukan sekadar klub sepak bola, melainkan identitas kultural yang menyatu dengan jiwa masyarakat Sunda. Bahkan, dalam laporan tersebut, Persib disebut sebagai “timnas”-nya orang Sunda.
Temuan ini diperkuat oleh pernyataan sosiolog Richard Giulianotti yang mengklasifikasikan pendukung Persib dalam kategori supporter dan follower—kelompok dengan ikatan identitas wilayah yang sangat kuat dan rasa memiliki terhadap klub yang bersifat tradisional. Dalam pandangan mereka, Persib adalah marwah dan harga diri.
Prediksi Persija vs Persib: Duel Klasik di GBK, Peluang 50-50, dan Badai Cedera yang Menghantui

Mengapa Warga Jawa Barat Enggan ke GBK?
Ada beberapa faktor yang menjelaskan mengapa warga Jawa Barat enggan datang ke GBK untuk mendukung Timnas Indonesia:
-
Sentimen Kedaerahan yang Kuat: Bagi warga Jawa Barat, Persib adalah representasi identitas dan kebanggaan mereka. Ketika harus memilih antara mendukung klub kebanggaan atau timnas, pilihan jatuh pada Persib.
-
Rivalitas yang Terbawa ke Timnas: Rivalitas antara Persib dan Persija Jakarta—klub yang berbasis di Jakarta—kerap terbawa ke lingkungan Timnas Indonesia. Kasus Beckham Putra, pemain Persib yang mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari oknum suporter saat membela Timnas, menjadi bukti nyata bahwa rivalitas klub masih sangat kental.
-
Perlakuan Tidak Menyenangkan terhadap Pemain Persib: Bobotoh (suporter Persib) menilai pemain-pemain Persib sering “dianaktirikan” dan sulit dipanggil ke Timnas Indonesia . Ketika Patrick Kluivert tidak memanggil satu pun pemain Persib ke Timnas, kekecewaan meluap.
-
Jarak dan Biaya: Perjalanan dari Bandung ke Jakarta membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Meskipun Whoosh telah mempermudah mobilitas, tetap saja ada pertimbangan tersendiri.
Kekecewaan Bobotoh: “Harus Buktikan Apalagi?”
Kekecewaan bobotoh terhadap Timnas Indonesia bukan tanpa alasan. Ketika Persib meraih gelar juara Liga 1 2024-2025, tidak ada satu pun pemainnya yang dipanggil ke Timnas Indonesia . Hal ini memicu reaksi keras dari bobotoh di media sosial.
“Beckham Putra, Marc Klok, Adam Alis & Edo Febriansyah masih belum dipanggil? Apa lagi yang perlu mereka buktikan?” tulis akun @v_frontline_pc .
“Setahun terakhir mulai sering nontonin Persib (ya karena kerja di Bandung). Agak heran kenapa gak ada pemainnya yang ‘lolos’ panggilan timnas,” tulis akun iqbalarauf .
Kasus Beckham Putra: Rivalitas yang Terbawa ke Timnas
Kasus Beckham Putra menjadi simbol nyata bagaimana rivalitas klub terbawa ke Timnas. Pemain Persib itu beberapa kali mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari oknum suporter saat membela Garuda. Insiden pertama terjadi saat Beckham berjalan dari hotel menuju bus tim menjelang laga Indonesia melawan Oman, di mana ia mendapat umpatan dan kata-kata tidak pantas .
Perlakuan serupa kembali terjadi setelah pertandingan Indonesia kontra Mozambik. Beckham sempat terlibat ketegangan dengan oknum suporter hingga Kevin Diks turun tangan untuk meredam situasi. Sebagian pihak menduga perlakuan tersebut dipicu rivalitas antarklub yang terbawa ke lingkungan Timnas Indonesia.
Respons PSSI dan Klub
Menghadapi fenomena ini, PSSI dan klub-klub berupaya meredam ketegangan. Kapten Persija Jakarta, Rizky Ridho, mengunggah foto kebersamaan pemain Persija dan Persib sambil mengajak semua pihak mengesampingkan perbedaan klub saat membela Timnas.
“Kita mungkin datang dari klub yang berbeda, tetapi saat mengenakan jersei Tim Nasional, kita adalah satu keluarga,” tulis Rizky Ridho.
Dukungan serupa disampaikan mantan Ketua Umum The Jakmania, Diky Soemarno, yang menyebut Beckham sebagai salah satu pemain lokal terbaik Indonesia [8†L22-L24].
Dampak pada Kehadiran di GBK
Fenomena ini berdampak pada menurunnya jumlah penonton di GBK. Sepanjang tahun 2026, tren kehadiran penonton di stadion kebanggaan Jakarta ini tercatat terus menurun. Pada laga melawan Timnas Oman (5 Juni 2026), hanya 23.677 penonton yang hadir . Angka ini jauh di bawah ekspektasi, terlebih lawan yang dihadapi merupakan tim kuat yang berjuang meraih tiket lolos ke putaran final Piala Dunia 2026.
Sebagai perbandingan, pada Kualifikasi Piala Dunia 2026 lalu, rata-rata 65.000 penonton hadir di setiap laga kandang Timnas Indonesia di GBK . Penurunan ini diduga bukan semata soal hasil pertandingan, melainkan juga faktor penjadwalan, harga tiket, hingga komunikasi yang dirasa belum cukup transparan .
Fenomena warga Jawa Barat yang lebih memilih Persib dibanding Timnas Indonesia mencerminkan kuatnya ikatan identitas kultural yang telah mengakar selama lebih dari satu abad. Bagi mereka, Persib bukan sekadar klub sepak bola—ia adalah representasi harga diri, identitas, dan kebanggaan masyarakat Sunda.
Namun, fenomena ini juga menjadi cermin bagi PSSI dan pengelola sepak bola nasional. Ketika rivalitas klub terbawa ke Timnas, dan ketika pemain-pemain dari klub tertentu merasa “dianaktirikan”, maka dukungan publik pun terbelah. Diperlukan upaya serius untuk menjembatani jurang antara klub dan timnas, agar semangat “Garuda di Dadaku” tidak pudar oleh sentimen kedaerahan.
Seperti yang diungkapkan Ayi Beutik, pendiri Viking Persib Club: “Persib mah bahasa hate” —Persib adalah bahasa hati dan selama hati warga Jawa Barat masih berbahasa Persib, Timnas Indonesia harus bekerja lebih keras untuk memenangkan tempat di hati mereka.
📝 PosNusantara.com — Cepat · Akurat · Terpercaya












