BANDUNG, PosNusantara.com – Persib aspirasi karhutla menjadi pemandangan menyentuh dalam laga Super League antara Persib Bandung dan Persik Kediri di Stadion Si Jalak Harupat, Minggu (18/10/2026). Di tengah atmosfer pertandingan, Bobotoh di Tribune Utara membentangkan spanduk besar bertuliskan “All Eyes On Karhutla” , “No Forest No Future Fk Greed” , dan “Langit Seharusnya Biru” . Aksi Persib aspirasi karhutla ini bukan sekadar selebrasi, melainkan seruan moral dari tribun sepak bola untuk bencana asap yang melanda Sumatera dan Kalimantan.
Kronologi Aksi: Spanduk dan Masker di Tribune Utara
Aksi Persib aspirasi karhutla berlangsung sejak sebelum kick-off. Bobotoh di Tribune Utara membentangkan tiga spanduk raksasa yang menyoroti bencana asap di Sumatera dan Kalimantan. Ketika babak pertama dimulai, spanduk tersebut diturunkan ke area pagar depan tribun, sementara sebagian Bobotoh mengenakan masker penutup wajah sepanjang laga.
Ilman (35), Bobotoh asal Binong, menilai aksi ini sebagai bentuk kepedulian yang seharusnya dilihat pemerintah. “Bagus, ini terlihat kepedulian bobotoh terhadap situasi bencana yang terjadi di Kalimantan,” ujarnya. “Saya rasa ini harus diperhatikan oleh pemerintah karena di tribun penonton isu sosial sudah sampai” .
Makna “Langit Seharusnya Biru” dan “All Eyes on Karhutla”
“Langit Seharusnya Biru” adalah metafora harapan agar masyarakat dapat kembali menikmati udara bersih tanpa terganggu asap kebakaran. Sementara “All Eyes on Karhutla” menekankan pentingnya menjaga perhatian publik terhadap bencana yang kerap terlupakan.
Spanduk “No Forest No Future Fk Greed” menjadi sentilan keras terhadap praktik eksploitasi lingkungan yang diduga menjadi pemicu karhutla. Pesan ini menegaskan bahwa Persib aspirasi karhutla bukan sekadar aksi simbolik, melainkan kritik sosial yang terlembaga melalui ruang tribun.

Igor Tolic: Karhutla adalah Tragedi bagi Indonesia dan Alam
Pelatih Persib Bandung, Igor Tolic, menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap bencana karhutla. “Saya pikir itu adalah sebuah tragedi bagi masyarakat dan alam. Saya bukan ahli dalam masalah kebakaran hutan, tapi saya melihat ini tidak baik bagi Indonesia dan negara-negara tetangga,” ujar Igor.
Ia menghubungkan peristiwa ini dengan pengalaman di Kroasia, di mana kebakaran hutan sering terjadi saat musim panas dan menimbulkan korban jiwa serta kerusakan alam. Igor berharap upaya pencegahan segera dilakukan agar dampak karhutla tidak semakin meluas.
Tribun sebagai Ruang Aspirasi Sosial
Aksi Persib aspirasi karhutla menegaskan bahwa tribun stadion telah bertransformasi menjadi ruang aspirasi publik. Pengamat tribun menilai kehadiran pesan lingkungan di stadion mengindikasikan adanya masalah mendasar yang belum terselesaikan oleh pemangku kebijakan. Ketika isu sosial sudah sampai ke tribun, maka pemerintah harus segera mengevaluasi penanganan karhutla secara permanen.
Rekam jejak Tribune Utara memang dikenal vokal dalam mengawal isu sosial dan kebijakan internal klub. Spanduk kritikan terhadap kinerja pemerintah hingga manajemen Persib sudah berulang kali terbentang di sektor tersebut.
Pesan dan Simbol dalam Aksi Persib Aspirasi Karhutla
| Elemen Aksi | Makna dan Tujuan |
|---|---|
| Spanduk “All Eyes On Karhutla” | Mengajak publik dan pemerintah untuk fokus pada bencana karhutla yang melanda Sumatera dan Kalimantan |
| Spanduk “Langit Seharusnya Biru” | Metafora harapan akan udara bersih dan langit tanpa asap kebakaran |
| Spanduk “No Forest No Future Fk Greed” | Kritik terhadap eksploitasi lingkungan dan keserakahan yang memicu karhutla |
| Masker penutup wajah | Simbol solidaritas terhadap korban bencana asap dan kelompok rentan |
| Pernyataan Igor Tolic | Dukungan moral dari pelatih yang menyebut karhutla sebagai tragedi kemanusiaan dan lingkungan |
Respons Publik dan Desakan Evaluasi Pemerintah
Aksi Persib aspirasi karhutla menuai apresiasi luas dari sesama Bobotoh. Ginanjar (39), Bobotoh asal Kabupaten Bandung, menilai aksi ini sebagai bukti bahwa warga Jawa Barat peduli terhadap bencana di daerah lain. “Saya lihat sebagian ada yang pakai masker, terus ada spanduk kritikan juga, saya rasa ini bagus bahwa bobotoh atau warga Jawa Barat juga peduli bencana di Kalimantan,” tuturnya.
Pengamat menilai kekuatan suara suporter memiliki daya dorong besar apabila dilakukan secara masif oleh seluruh basis pendukung klub di Indonesia. Pemerintah diyakini akan bergerak lebih cepat jika desakan publik terus mengalir dari berbagai lini.
Sepak Bola yang Melampaui 90 Menit
Persib aspirasi karhutla membuktikan bahwa sepak bola bukan sekadar pertandingan 90 menit. Tribun stadion telah menjadi panggung kesadaran sosial, tempat suporter menyuarakan keresahan terhadap persoalan yang lebih besar dari sekadar menang atau kalah.
Ketika langit seharusnya biru, namun asap karhutla menutupinya, Bobotoh memilih untuk tidak diam. Mereka menggunakan spanduk, masker, dan solidaritas sebagai bahasa perlawanan yang elegan. Persib aspirasi karhutla adalah pengingat bahwa cinta pada klub dan cinta pada lingkungan bukanlah dua hal yang saling bertentangan—keduanya bisa berjalan seiring, di tribun yang sama, dengan suara yang sama.
📝 PosNusantara.com — Cepat · Akurat · Terpercaya












