banner

Mengenal Bendungan Bendo Ponorogo: Proyek Strategis Nasional untuk Irigasi dan PLTA

Profil Bendungan Bendo, proyek strategis nasional di Ponorogo. Berfungsi sebagai irigasi 7.800 hektar lahan dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) berpotensi 1,56 MW.

Bendungan Bendo Ponorogo PLTA (foto:istimewa)
banner

PONOROGO, PosNusantara.com – Di balik hamparan sawah hijau dan aliran Sungai Keyang di Ponorogo, berdiri sebuah bendungan yang menjadi salah satu proyek strategis nasional Indonesia. Namanya adalah Bendungan Bendo. Proyek besar ini tidak hanya berfungsi sebagai pengendali banjir dan irigasi pertanian, tetapi juga menyimpan potensi sebagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA) untuk mendukung energi baru dan terbarukan.

🏗️ Identitas dan Spesifikasi Bendungan Bendo

Bendungan Bendo adalah sebuah bendungan tipe urugan batu yang terletak di Dusun Bendo, Desa Ngindeng, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Bendungan yang dibangun dengan membendung Sungai Keyang ini menghabiskan anggaran sekitar Rp 1,1 triliun dan memiliki spesifikasi teknis yang impresif:

Spesifikasi Detail
Tinggi Bendungan 71 – 78,5 meter
Panjang Puncak 354 meter
Lebar Puncak 13 meter
Kapasitas Tampung 43 juta meter kubik (43 juta m³)
Luas Genangan 170 hektar

Bendungan ini dikerjakan mulai tahun 2013 dan akhirnya diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 7 September 2021. Dalam proses pembangunannya, proyek ini juga menyerap hingga 250 tenaga kerja lokal.

⚡ Fungsi Utama: Irigasi dan Energi Terbarukan

Bendungan Bendo didesain sebagai bendungan multifungsi dengan dua peran utama, yaitu sebagai penopang ketahanan pangan dan penyedia energi terbarukan.

Bendungan Bendo
Bendungan bendo PLTA Bendo Ponorogo sekaligus objek wisata (foto:PosNusantara)

1. Sumber Irigasi Pertanian: Peningkatan Produktivitas Lahan

Fungsi utama bendungan ini adalah sebagai sumber irigasi untuk mendukung ketahanan pangan di wilayah Ponorogo dan sekitarnya. Dengan kapasitas tampung yang besar, Bendungan Bendo mampu mengairi area pertanian hingga 7.800 hektar di Kabupaten Ponorogo dan Madiun.. Keberadaan air yang stabil ini mampu meningkatkan indeks pertanaman (IP) dari yang sebelumnya 170 menjadi 260 per tahun. Artinya, para petani dapat menanam lebih sering, dari yang tadinya padi-palawija-palawija menjadi padi-padi-palawija.

2. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) untuk Desa Mandiri Energi

Selain untuk pertanian, potensi air yang melimpah di Bendungan Bendo juga diarahkan untuk menghasilkan energi listrik. Dengan memanfaatkan tinggi jatuh air (head) sekitar 71 meter dan debit air yang besar, bendungan ini dirancang untuk membangkitkan tenaga listrik.

Bendungan Bendo sendiri berpotensi menghasilkan daya sekitar 1,56 MW. Studi kelayakan yang dilakukan pada tahun 2026 oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menunjukkan bahwa dengan menggunakan satu unit turbin Francis, PLTA ini dapat menghasilkan daya listrik sebesar 848 kW atau setara dengan energi tahunan sekitar 6.174.806 kWh. Hal ini menjadikannya sebagai salah satu alternatif solusi dalam penyediaan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) untuk masyarakat di daerah Ponorogo.

🌿 Manfaat Lain: Pengendali Banjir dan Potensi Wisata

Selain dua fungsi utamanya, Bendungan Bendo juga memberikan manfaat tambahan yang tidak kalah penting:

  • Pengendali Banjir: Mereduksi debit banjir yang selama ini sering mengancam kawasan Kota Ponorogo.

  • Sumber Air Baku: Menyediakan air baku untuk kebutuhan rumah tangga dan industri.

  • Destinasi Wisata: Pemandangan perbukitan di sekitar bendungan telah direncanakan untuk menjadi tujuan wisata alam yang potensial, terutama setelah genangan air terisi penuh.

Bendungan Bondo berdiri sebagai simbol nyata dari upaya pemerintah dalam membangun infrastruktur yang tidak hanya melayani kebutuhan dasar masyarakat, tetapi juga menjadi fondasi bagi kemandirian energi di masa depan.

📝 PosNusantara.com — Cepat · Akurat · Terpercaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *