Data Center AI Jatiluhur: Ambisi Digital yang Mengancam Krisis Air

Data Center AI Jatiluhur: proyek Rp3,5 triliun yang menyedot 33 juta liter air per hari. Simak polemik, penghentian sementara, dan ancaman krisis air.

JAKARTA, PosNusantara.com – Data Center AI Jatiluhur menjadi sorotan publik setelah proyek raksasa milik BDx Data Centers di kawasan Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, resmi dihentikan sementara oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Proyek bernilai investasi Rp3,5 triliun ini dirancang memiliki kapasitas daya listrik hingga 640 megawatt (MW)—setara dengan konsumsi listrik ratusan ribu rumah tangga. Namun, di balik ambisi digital tersebut, tersembunyi kekhawatiran mendalam tentang krisis air yang mengancam kehidupan petani dan pasokan air baku ke Jakarta.

Sekilas Proyek Data Center AI Jatiluhur

Data Center AI Jatiluhur dikembangkan oleh BDx Data Centers, operator pusat data asal Singapura, dengan nama proyek AI Campus 2 (CGK4) . Proyek ini dibangun di atas lahan seluas 8.000 meter persegi sebagai bagian dari kawasan pengembangan seluas 11 hektare yang berlokasi sekitar 5 kilometer dari Bendungan Jatiluhur.

Pusat data lima lantai ini dirancang memiliki kapasitas daya listrik hingga 120 MW pada tahap awal, dengan kapasitas pengembangan mencapai 640 MW yang akan tersebar di enam gedung selama tiga tahun. BDx telah memperoleh kapasitas daya listrik sebesar 845 MVA dari PT PLN (Persero) untuk mendukung operasional kompleks tersebut.

Pemilihan Jatiluhur sebagai lokasi didasarkan pada kondisi geografis yang dinilai relatif aman dari bencana alam, serta akses pasokan listrik dan air bersih yang memadai. Proyek ini diproyeksikan menyerap 2.000 hingga 3.000 tenaga kerja secara bertahap.

Baca juga: PLTS 100 Gigawatt: Ambisi Mercusuar Prabowo, Beban PLN 

Konsumsi Air yang Mengkhawatirkan: 33 Juta Liter per Hari

Inilah inti dari polemik Data Center AI Jatiluhur: kebutuhan air yang sangat masif untuk sistem pendinginan server. Berbeda dengan data center konvensional, Data Center AI Jatiluhur dilengkapi dengan ribuan klaster GPU canggih yang menghasilkan panas ekstrem, sehingga memerlukan sistem pendinginan cair (liquid cooling) skala raksasa.

Berdasarkan keterangan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, kebutuhan air untuk Data Center AI Jatiluhur mencapai 384 liter per detik (LPS) atau sekitar 0,4 meter kubik per detik saat beroperasi penuh. Angka ini setara dengan 33.000 meter kubik atau 33 juta liter air per hari—jumlah yang setara dengan kebutuhan air enam desa selama sebulan.

Pada tahap awal, kebutuhan air disebut masih sekitar 6.000 meter kubik per hari. Namun, KDM meminta pemerintah memastikan peningkatan kebutuhan air tersebut tidak mengurangi alokasi yang selama ini telah diperuntukkan bagi pertanian.

Ancaman Krisis Air untuk Irigasi dan Jakarta

Pembangunan Data Center AI Jatiluhur menimbulkan kekhawatiran serius tentang krisis air yang berdampak luas. Pengamat Kebijakan Publik Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah, menilai kondisi sumber daya air di Jatiluhur perlu menjadi perhatian serius seiring meningkatnya aktivitas industri di kawasan tersebut.

“Iya cukup menguras sumber air kita karena sesungguhnya keberadaan data center itu jadi banyak kepentingan bermain di situ untuk distribusi airnya.” — Trubus Rahadiansyah, Pengamat Kebijakan Publik Universitas Trisakti

Yang lebih mengkhawatirkan, air dari Waduk Jatiluhur tidak hanya digunakan masyarakat Purwakarta. KDM mengingatkan bahwa Data Center AI Jatiluhur berpotensi mengganggu pasokan air baku ke wilayah Jabodetabek, termasuk Jakarta.

Selain itu, operasional Data Center AI Jatiluhur juga berpotensi menimbulkan dampak lingkungan lain, seperti potensi bakteri tertentu dalam air buangan, kebisingan, hingga emisi karbon.

Respons Gubernur KDM: Sidak dan Penghentian Sementara

Polemik Data Center AI Jatiluhur mencapai puncaknya ketika Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi proyek pada Senin, 28 September 2026. Dalam sidak tersebut, KDM menemukan bahwa Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) proyek tersebut belum rampung.

“Jangan sampai pas di perjalanan di Indonesia itu kalau sudah ribut-ribut politik, kasihan pengusaha harus fight dari sekarang. Airnya cukup enggak? Mengganggu petani enggak?” — Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat

Akibatnya, Pemerintah Provinsi Jawa Barat resmi menghentikan sementara proyek Data Center AI Jatiluhur hingga perizinan dikeluarkan oleh Pemkab Purwakarta. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat, Adi Komar, menegaskan bahwa Pemprov Jabar mendukung investasi, namun pemenuhan ketentuan yang berlaku harus diutamakan mengingat skala proyek yang besar.

Sumber: CNBC Indonesia 

Sorotan DPRD Jabar: Transparansi dan Koordinasi yang Dipertanyakan

Data Center AI Jatiluhur juga mendapat sorotan dari DPRD Jawa Barat. Anggota Komisi V DPRD Jabar dari Fraksi PKB, Maulana Yusuf Erwinsyah, mengapresiasi potensi penyerapan tenaga kerja, tetapi meminta pemerintah menjelaskan secara terbuka sejauh mana manfaat ekonomi proyek sebanding dengan dampak yang ditimbulkan.

“Seharusnya pemerintah membuka ke publik plus-minus data center AI tersebut. Keuntungannya bagaimana dan kerugiannya bagaimana.” — Maulana Yusuf Erwinsyah, Anggota Komisi V DPRD Jabar

Maulana juga menyoroti belum optimalnya koordinasi antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan DPRD dalam pembahasan proyek tersebut. Ia menilai informasi mengenai perizinan, AMDAL, serta mekanisme pembagian manfaat bagi masyarakat perlu disampaikan kepada lembaga legislatif dan publik.

Dilema Antara Ambisi Digital dan Krisis Air

Data Center AI Jatiluhur menghadirkan dilema klasik antara ambisi pembangunan digital dan keberlanjutan lingkungan. Di satu sisi, proyek ini diproyeksikan memperkuat kedaulatan digital Indonesia yang selama ini masih bergantung pada pusat data di luar negeri. Di sisi lain, operasionalnya berpotensi menimbulkan krisis air yang mengancam kehidupan petani dan pasokan air baku ke Jakarta.

IDPRO (Indonesia Data Center Provider Organization) menekankan bahwa pembangunan data center perlu memperhatikan aspek keberlanjutan atau sustainability. Khusus untuk proyek di Jatiluhur, pemerintah dan pengembang harus memastikan kebutuhan operasional data center tidak mengganggu pasokan air masyarakat maupun operasional pembangkit listrik ekologis setempat.

Data Center AI Jatiluhur adalah cermin dari dilema besar yang dihadapi Indonesia dalam era transformasi digital. Di satu sisi, kehadirannya menjanjikan kemajuan teknologi dan lapangan kerja. Di sisi lain, ia mengancam krisis air yang bisa berdampak pada ketahanan pangan dan kehidupan jutaan orang.

Penghentian sementara proyek ini adalah langkah awal yang bijak, namun pertanyaan besarnya masih menggantung: akankah pemerintah dan pengembang mampu menemukan keseimbangan antara ambisi digital dan keberlanjutan air, atau akankah krisis air menjadi harga yang harus dibayar untuk kemajuan teknologi?

 PosNusantara.com — Cepat · Akurat · Terpercaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *