BOGOR, PosNusantara.com – Rapimnas SP PLN Cipayung menjadi momentum bersejarah. Gelombang penolakan terhadap kebijakan ketenagalistrikan nasional semakin menguat. Serikat Pekerja PT PLN (Persero) (SP PLN) menggelar Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) pada 16-18 September 2026 di Wisma PLN UID Jakarta Raya, Cipayung, Bogor. Hasilnya: dua surat aspirasi resmi dikirim ke Presiden Prabowo Subianto dan Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo, berisi tuntutan pembatalan RUPTL 2025-2034, penolakan dominasi IPP, dan ancaman mogok jika tidak ditindaklanjuti hingga 30 September 2026. Inilah liputan lengkap Rapimnas SP PLN Cipayung.
Latar Belakang Rapimnas: Keresahan yang Menumpuk
Rapimnas SP PLN yang digelar pada 16-18 September 2026 di Wisma PLN UID Jakarta Raya, Cipayung, Bogor, bukanlah agenda rutin biasa. Dalam surat penugasan bernomor 386/DPP/SP-PLN/VIII/2026 tertanggal 27 Agustus 2026, Ketua Umum SP PLN, M. Abrar Ali, S.H., M.H., secara tegas menginstruksikan seluruh Ketua DPD untuk hadir.
“Seluruh Ketua DPD wajib hadir untuk bersama-sama membubuhkan tanda tangan berstempel pada Pernyataan Sikap Bersama DPP dan DPD SP PLN.” — Surat Nomor 386/DPP/SP-PLN/VIII/2026
Agenda yang dibahas dalam Rapimnas mencakup permasalahan hubungan industrial yang sangat mendasar: Pembinaan Talenta Pegawai, Pelanggaran Disiplin Pegawai, Penugasan Khusus, Formasi Tenaga Kerja (FTK), dan Talent Mobility. Namun, yang menjadi pemicu utama adalah kebijakan ketenagalistrikan nasional, khususnya RUPTL 2025-2034 yang dinilai terlalu dominan memberikan porsi kepada pihak swasta (IPP).
Hasil Rapimnas kemudian dituangkan dalam dua surat resmi yang dikirim pada 23 September 2026:
-
Surat Nomor 433/DPP/SP-PLN/IX/2026 kepada Presiden RI
-
Surat Nomor 434/DPP/SP-PLN/IX/2026 kepada Direktur Utama PT PLN (Persero)

Surat 433 untuk Presiden: 11 Tuntutan Strategis
Surat yang ditujukan kepada Presiden Prabowo Subianto ini berisi 11 tuntutan strategis yang menyentuh langsung kedaulatan energi nasional:
| No | Tuntutan kepada Presiden |
|---|---|
| 1 | Membatalkan Kepmen ESDM No. 188.K/TL.03/MEM.L/2025 tentang Pengesahan RUPTL PLN 2025-2034 |
| 2 | Memerintahkan Menteri ESDM dan Direksi PLN melibatkan SP PLN dalam penyusunan RUPTL baru |
| 3 | Menghentikan kebijakan yang melemahkan peran strategis PLN (IPP, Power Wheeling, PLTS Captive, Holding-Subholding) |
| 4 | Mereosiasi kontrak IPP dari Take or Pay menjadi Take and Pay |
| 5 | Membatalkan Pasal 5, 17, 18, 19 Permen ESDM No. 5 Tahun 2025 |
| 6 | Mengembalikan pengelolaan pembangkitan sesuai Putusan MK No. 111/PUU-XIII/2015 |
| 7 | Mendorong kebijakan EBT yang berpihak pada keberlangsungan PLN |
| 8 | Menetapkan usia pensiun pegawai PLN menjadi 58 tahun |
| 9 | Membatalkan atau merevisi Inpres No. 7 Tahun 2026 tentang percepatan penataan BUMN |
| 10 | Menolak rencana streamline BUMN yang melemahkan peran strategis PLN |
| 11 | Meminta pejabat terkait dicopot dan diganti jika aspirasi tidak ditindaklanjuti |
Inti Keresahan: RUPTL 2025-2034 memberikan porsi sangat dominan kepada IPP dalam pengembangan kapasitas pembangkit baru. Skema ini berpotensi mereduksi peran PLN sebagai operator dan pengendali utama sistem kelistrikan nasional, sekaligus membuka risiko nyata PHK massal bagi pekerja PLN.
Baca juga:
PLTS 100 Gigawatt: Ambisi Mercusuar Prabowo, Rp1.306 Triliun, dan Beban yang Mengancam Darah PLN
KPI BUMN Tidak Penting? Membedah Paradoks Kinerja: PLN Rugi, Anak Perusahaan Untung
DPR Usul PLN Dipecah Jadi Dua Entitas: Solusi Atasi Rugi atau Jalan Menuju Privatisasi?
PLN Merugi Rp3,92 T di Tengah Pendapatan Rekor, Anak Usaha Sektor Jasa Tunjukkan Kinerja Positif
PT Cikarang Listrindo Tbk dan Berakhirnya Monopoli Tunggal PLN
Milestone Streamlining O&M Services: Peta Jalan Merger dan Divestasi HPI, PCN, MKP hingga 2027
Surat 434 untuk Dirut PLN: Evaluasi Kebijakan SDM
Surat kedua yang ditujukan kepada Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, lebih fokus pada isu internal ketenagakerjaan. SP PLN menyampaikan keresahan mendalam tentang kebijakan pengelolaan SDM yang dinilai tidak transparan dan berdampak langsung pada kesejahteraan pegawai.
Pokok-Pokok Aspirasi kepada Dirut PLN:
-
Dominasi IPP dan Take or Pay: Penolakan terhadap skema yang membebani keuangan PLN
-
Paradoks Denominasi Dolar AS: Desakan agar komponen yang telah dilokalkan melalui TKDN dihitung dalam Rupiah
-
Kesenjangan Rekrutmen: Periode 2020-2025 terjadi 7.482 pensiun vs 3.390 rekrutmen (rasio 45,3%), mengakibatkan net loss 4.092 pegawai
-
Usia Pensiun: Desakan penyesuaian dari 56 menjadi 58 tahun
-
Talent Mobility: Evaluasi kebijakan mutasi yang tidak transparan
-
FTK (Formasi Tenaga Kerja): Permintaan membuka perencanaan FTK 5 tahun ke depan
-
Turunan PKB: Penyelesaian perundingan yang berlarut-larut, dengan tenggat 31 Desember 2026
-
Green Energy Day: Evaluasi kebijakan subsidi kendaraan listrik yang memberatkan pegawai

Surat Pernyataaan Aspirasi Serikat Pekerja PT PLN
Pernyataan Sikap Bersama: Dukungan 40+ DPD Se-Indonesia
Yang membuat surat-surat ini memiliki bobot politik yang kuat adalah Pernyataan Sikap Bersama yang ditandatangani oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) dan seluruh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) SP PLN se-Indonesia.
Berdasarkan dokumen yang diperoleh PosNusantara.com, pernyataan sikap ini ditandatangani oleh lebih dari 40 Ketua DPD dari berbagai wilayah:
| No | DPD | Ketua |
|---|---|---|
| 1 | DPD UIP Sumbagut | Lud Rudi Anggoro |
| 2 | DPD UIP Sumbagteng | Krisnando Lumban Gaol |
| 3 | DPD UIP Sumbagsel | Novalia Indra |
| 4 | DPD UIP JBT | Tito Fachriz |
| 5 | DPD UIP Kalbagbar | Syayatur Rahman Herman |
| 6 | DPD UIP Kalbagtim | Idal Baharuddin |
| 7 | DPD UIP Nusra | Lalu Irlan Jayadi |
| 8 | DPD UIP3B Sumatera | Yulia Putra |
| 9 | DPD UIP2B Jamali | Rici Fajar |
| 10 | DPD UIT JBB | Bayu Prasetyo |
| 11 | DPD UIT JBT | Mardurianto |
| 12 | DPD UID Aceh | Mansyur |
| 13 | DPD UID Sumut | Romadhona Ginting |
| 14 | DPD UID Jateng | Hamdani Aji |
| 15 | DPD UID Jabar | Aditya Pratama |
| 16 | DPD UID Banten | Ahmad Syaifudin |
| 17 | DPD UID Lampung | Wibowo |
| 18 | DPD UID Jaya | Projar |
| 19 | DPD UID Yogyakarta | Novi Hario |
| 20 | DPD UID Jatim | Muhammad Zainuddin |
| 21 | DPD UID Bali | I Komang Van Never |
| 22 | DPD UIW NTB | Rusdin |
| 23 | DPD UIW NTT | Bernius Ria |
| 24 | DPD UID Kalbar | Ahmad Junaidi |
| 25 | DPD UID Kalselteng | Zakaria |
| 26 | DPD UID Kaltimra | Anggiawan Reza |
| 27 | DPD UID Sulselrabar | Demparani |
| 28 | DPD UID Suluttenggo | Joko Susanto |
| 29 | DPD UIW MMU | Ashmad Rizal Ogalahu |
| 30 | DPD UIW P2B | Suparai |
| 31 | DPD UIT JBM | Hera Shinta Della |
| 32 | DPD UIP3B Kalimantan | Dede Kusmana Ramdan |
| 33 | DPD UIP3B Sulawesi | Syamsul Arifin |
| 34 | DPD PLN NP | Dian Firza |
| 35 | DPD PLN Nusa Daya | Herwin Hidayat |
| 36 | DPD UID Sumbar | Wimmar Hadi Asril |
| 37 | DPD UIP JBTB | Tammu Abraham Alexander Bulo |
| 38 | DPD UIP Sulawesi | Syamsul Arifin |
| 39 | DPD Pusharlis | Julianto |
| 40 | DPD PLN HP | Donny Zaviar Rizki |
| 41 | DPD Haleyora Powerindo | M. Tri Aprianto |
Kehadiran M. Tri Aprianto sebagai Ketua DPD Haleyora Powerindo dalam pernyataan sikap ini menunjukkan bahwa isu ini tidak hanya menyentuh pegawai tetap PLN, tetapi juga pekerja di anak dan cucu perusahaan PLN.
Empat Pokok Aspirasi: Dari IPP hingga Usia Pensiun
Dalam dokumen rekomendasi kebijakan yang dilampirkan, SP PLN merinci empat pokok aspirasi yang menjadi dasar perjuangan mereka:
1. Dominasi IPP dan Ancaman PHK Massal
RUPTL 2025-2034 memberikan porsi yang sangat dominan kepada IPP. Skema ini berpotensi:
-
Mereduksi peran PLN sebagai operator dan pengendali utama sistem kelistrikan
-
Membuka risiko nyata PHK massal bagi pekerja PLN yang selama ini mengoperasikan pembangkit milik PLN sendiri
2. Skema Take or Pay yang Membebani Keuangan PLN
Skema take or pay mewajibkan PLN membayar kapasitas dan/atau energi yang dihasilkan IPP, terlepas dari terserap atau tidaknya listrik oleh sistem. Ini menciptakan beban finansial struktural yang menekan kemampuan PLN dalam memberikan kesejahteraan layak bagi pekerjanya.
3. Paradoks Denominasi Dolar AS dalam Perpres No. 112 Tahun 2022
Pasal 13 Perpres 112/2022 menyatakan pembayaran dalam Rupiah, namun nilainya wajib dikonversi dari Dolar AS menggunakan kurs JISDOR. Ini menimbulkan paradoks: di satu sisi regulasi mewajibkan TKDN, di sisi lain Harga Patokan Tertinggi tetap dalam Dolar AS—bahkan untuk komponen yang telah sepenuhnya lokal.
Akibatnya, setiap pelemahan Rupiah otomatis membengkakkan BPP listrik PLN, sementara IPP menikmati windfall profit murni dari selisih kurs tanpa menanggung risikonya.
4. Kesenjangan Rekrutmen dan Urgensi Perpanjangan Usia Kerja
Periode 2020-2025 terjadi 7.482 pensiun dibandingkan 3.390 rekrutmen (rasio hanya 45,3%), mengakibatkan net loss 4.092 pegawai. Ini berpotensi menimbulkan kesenjangan kompetensi dan risiko keberlanjutan operasional.
Ancaman Mogok: Tenggat 30 September 2026
Puncak dari pernyataan sikap bersama ini adalah ancaman tegas yang disampaikan SP PLN:
“Apabila tuntutan yang kami sampaikan sebagaimana dimaksud dalam angka 1 sampai 10 diatas tidak ditanggapi dan tidak ditindaklanjuti oleh Pejabat terkait maka Kami meminta agar yang bersangkutan dicopot dan diganti sehingga permasalahan yang ada dapat segera diselesaikan.”
Selain itu, dalam Pernyataan Sikap Bersama, SP PLN memberikan tenggat hingga 30 September 2026 kepada Presiden dan Direksi PLN untuk menindaklanjuti aspirasi mereka.
“Apabila pernyataan Kami tidak ditindaklanjuti oleh semua pihak terkait maka Kami akan menggunakan hak sebagai Organisasi Serikat Pekerja sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.”
Pesan penegasan yang tertulis di bagian akhir dokumen berbunyi:
“TRANSISI ENERGI BOLEH BERJALAN, TETAPI KEPENTINGAN NASIONAL, PENGUASAAN NEGARA, KEBERLANJUTAN PLN, DAN PERLINDUNGAN PEKERJA HARUS TETAP TERJAGA.”
Rapimnas SP PLN di Cipayung pada 16-18 September 2026 menghasilkan dua surat aspirasi yang menggetarkan meja Presiden dan Direktur Utama PLN. Dengan dukungan lebih dari 40 DPD se-Indonesia—termasuk DPD Haleyora Powerindo—SP PLN mengirim pesan yang sangat jelas: mereka tidak akan tinggal diam menghadapi kebijakan yang melemahkan PLN dan mengancam kesejahteraan pekerjanya.
Dari penolakan dominasi IPP hingga tuntutan perpanjangan usia pensiun, dari pembatalan RUPTL 2025-2034 hingga desakan pencopotan pejabat yang tidak responsif—semua tertuang dalam dokumen resmi yang ditandatangani dengan stempel organisasi.
Tenggat 30 September 2026 kini menjadi penentu. Akankah Presiden dan Direksi PLN merespons aspirasi ini dengan bijak, atau akankah serikat pekerja benar-benar menggunakan haknya untuk menggelar aksi yang lebih besar?
“SP PLN! YES, KUAT, BERSATU! | PLN! JAYA TERBAIK! | UNBUNDLING! NO! | INDONESIA, BANGKIT, BERDAULAT! MERDEKA!”
PosNusantara.com — Cepat · Akurat · Terpercaya












