JAKARTA, PosNusantara.com – Kolombia dilanda bencana gempa bumi dahsyat pada Senin, 10 Agustus 2026, yang mengakibatkan kerusakan massal dan korban jiwa yang terus bertambah. Hingga Selasa (11/8/2026) pagi, otoritas setempat melaporkan korban tewas mencapai 132 orang, sementara 570 lainnya mengalami luka-luka.
Gempa berkekuatan Magnitudo (M) 7,4 terjadi pada pukul 07.34 waktu setempat (19.34 WIB) dan berpusat di dekat Kota San José del Palmar, Provinsi Chocó, Kolombia bagian barat. Guncangan dahsyat ini tidak hanya dirasakan di hampir seluruh wilayah Kolombia, tetapi juga hingga ke negara-negara tetangga seperti Venezuela, Ekuador, dan Panama.
Sebab: Deformasi Lempeng Nazca
Para pakar menyebut gempa besar ini dipicu oleh deformasi atau tekanan di dalam Lempeng Nazca yang menunjam ke bawah Lempeng Amerika Selatan. Fenomena ini dikenal sebagai gempa intraslab atau gempa lempeng dalam, yang terjadi akibat deformasi internal dan pelepasan tegangan pada bagian lempeng yang telah menunjam ke dalam bumi.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan karakteristik khusus dari gempa jenis ini. Karena terjadi di kedalaman menengah dengan material lempeng yang kaku dan padat, energi gempa dapat merambat dengan sangat efisien dan menjangkau wilayah yang sangat luas.
“Kondisi material ini menyebabkan tingkat atenuasi gelombang sangat rendah, sehingga energi gempa berfrekuensi tinggi dapat ditransmisikan secara sangat efisien. Alhasil, guncangan tanah yang dihasilkan cenderung lebih kuat dan destruktif,” jelas Daryono.
Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa ini terjadi pada kedalaman sekitar 95 kilometer dengan mekanisme pergerakan geser naik (oblique thrust fault). BMKG juga memastikan bahwa gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami di wilayah Indonesia.

Dampak dan Kerusakan
Gempa ini menyebabkan kerusakan yang sangat luas. Otoritas Kolombia melaporkan sedikitnya 1.575 bangunan rumah rusak, dengan 37 di antaranya hancur total dan 61 bangunan runtuh. Selain itu, infrastruktur publik juga terdampak parah, mencakup:
-
18 fasilitas kesehatan rusak
-
52 institusi pendidikan rusak
-
18 ruas jalan mengalami kerusakan
-
7 bandara terdampak, beberapa di antaranya harus ditutup sementara
Kota Pereira di wilayah Risaralda menjadi daerah dengan korban jiwa tertinggi. Dari total 132 korban tewas, sebanyak 40 orang tercatat di Risaralda, 27 orang di Valle del Cauca, dan 18 orang di Kota Pereira.
Status Darurat Nasional
Presiden Kolombia yang baru dilantik, Abelardo de la Espriella, langsung menetapkan status bencana nasional pada hari yang sama untuk mempercepat mobilisasi dan koordinasi penanganan darurat.
“Negara hadir dan mengambil tindakan,” tegas De La Espriella.
Presiden juga memerintahkan pembentukan pos komando terpadu dan menyatakan akan memimpin langsung upaya tanggap darurat. Melalui media sosial, ia menyampaikan pesan kepada warganya yang terdampak: “Anda tidak sendirian. Anda memiliki Presiden yang sangat peduli pada rakyatnya dan akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk melindungi, mendukung, dan melangkah maju bersama dalam membangun kembali wilayah yang terdampak”.
Gempa Susulan dan Evakuasi
Setidaknya dua gempa susulan terjadi pada hari yang sama, dengan kekuatan M 2,8 dan M 4,8. Operasional penerbangan di beberapa bandara seperti Pereira, Manizales, Quibdo, Armenia, dan Cartago dihentikan sementara untuk pemeriksaan struktural. Sementara itu, operasional Bandara Popayan juga disetop akibat abu vulkanik dari Gunung Purace yang muncul menyusul aktivitas seismik.
Hingga berita ini diturunkan, jumlah korban tewas dan luka masih terus diperbarui seiring berlanjutnya upaya penyelamatan dan evakuasi korban yang masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan.


📝 PosNusantara.com — Cepat · Akurat · Terpercaya















