Kontroversi Ulta Levenia: Teori HAARP, Jejak K-pop, dan Pencopotan dari KSP

Kontroversi Ulta Levenia memuncak setelah mengaitkan erupsi gunung dengan HAARP. Simak profil, pernyataan, bantahan pakar, dan pencopotan dari KSP.

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) itu memicu kontroversi Ulta Levenia setelah mengaitkan rangkaian erupsi enam gunung api di Indonesia dengan proyek rahasia milik Amerika Serikat, High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP)

JAKARTA, PosNusantara.com – Nama Ulta Levenia Nababan mendadak menjadi perbincangan hangat di jagat maya dan media nasional. Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) itu memicu kontroversi Ulta Levenia setelah mengaitkan rangkaian erupsi enam gunung api di Indonesia dengan proyek rahasia milik Amerika Serikat, High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP). Pernyataan tersebut tidak hanya memantik perdebatan publik, tetapi juga berujung pada pencopotan dirinya dari KSP. Simak liputan lengkap PosNusantara.com mengenai sosok, pernyataan, dan bantahan para ahli.

Siapa Ulta Levenia Nababan?

Ulta Levenia Nababan adalah seorang peneliti yang memiliki latar belakang di bidang geopolitik, kontraterorisme, dan keamanan internasional. Ia merupakan lulusan Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI) dan sedang menempuh studi S2 di University of Leeds, Inggris. Dalam profilnya, Ulta tercatat pernah menjadi peneliti senior di Center of Terrorism and Radicalism Studies (CTRS) serta mendirikan Millennial untuk Pertahanan dan Keamanan (MAPAN).

Sebelum bergabung dengan KSP, Ulta dikenal sebagai sosok yang berani melakukan riset lapangan di daerah konflik, termasuk ke wilayah kelompok ekstremis di Filipina Selatan dan Afghanistan. Namanya sempat viral pada September 2025 setelah muncul di podcast Deddy Corbuzier dan menceritakan pengalamannya masuk ke “sarang teroris”. Pada 2026, ia menjabat sebagai Tenaga Ahli Utama di KSP dan juga Deputi di Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom).

Ulta Levenia Nababan mendadak menjadi perbincangan hangat di jagat maya dan media nasional

Kontroversi Ulta Levenia: Teori HAARP dan Erupsi Enam Gunung

Kontroversi Ulta Levenia memuncak pada awal September 2026. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya pada Senin (7/9/2026), ia mempertanyakan penyebab meletusnya enam gunung api secara bersamaan dalam waktu berdekatan, yaitu Gunung Anak Krakatau, Gunung Ibu, Gunung Ili Lewotolok, Gunung Semeru, Gunung Lewotobi Laki-Laki, dan Gunung Sinabung.

Ulta mengaku skeptis dengan penjelasan ilmiah biasa dan justru menyinggung proyek HAARP—sebuah proyek penelitian ionosfer yang didanai oleh Angkatan Udara AS, Angkatan Laut AS, dan DARPA. Ia menyebut proyek itu kerap dikaitkan dengan teori konspirasi karena diyakini bisa mengendalikan cuaca, membuat badai, hingga menciptakan gempa bumi, meski tanpa bukti ilmiah.

“Tapi karena saya orangnya skeptis banget, gak mau terima dengan penjelasan yang biasa dan lumrah HARUS diterima. Maka ada alternatif lain kemungkinan besar akan digolongkan ke teori konspirasi. Tapi toh terbukti konspirasi sebagian besar adalah fakta yang tertunda.” — Ulta Levenia, dalam unggahan Instagramnya

Ia bahkan mengaitkan waktu erupsi dengan pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Vladivostok, Rusia. Pernyataan ini langsung menuai sorotan luas dan menuai kritik dari berbagai pihak.

Jejak Kontroversi Sebelumnya: K-pop dan Radikalisme

Kontroversi Ulta Levenia bukanlah yang pertama. Sebelumnya, ia pernah menjadi sorotan karena pernyataannya yang mengaitkan fenomena K-pop dengan radikalisme. Ia bahkan disebut menyebut fandom BTS memiliki karakteristik mirip kelompok radikal—pernyataan yang ia klaim sebagai kritik satir terhadap budaya fanatik dalam dunia pop modern.

Metodologi riset Ulta juga dipertanyakan. Sebuah opini di Tribun Medan menilai bahwa pendekatannya lebih sensasional daripada berbasis metodologi ilmiah yang ketat. Narasi personal tentang pengalaman masuk ke wilayah konflik lebih ditonjolkan daripada data empiris yang dapat diverifikasi.

Pencopotan dari KSP dan Bantahan Resmi Pemerintah

Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman, secara tegas menyatakan bahwa Ulta Levenia sudah tidak lagi menjabat sebagai Tenaga Ahli Utama di KSP. Dudung menjelaskan bahwa Ulta saat ini menjabat sebagai salah satu deputi di Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), sehingga pernyataannya tidak dapat diposisikan sebagai sikap resmi Istana.

“Ulta sudah bukan di KSP lagi. Dulu dia di staf KSP sebagai tenaga ahli utama, tetapi sekarang sudah tidak. Dia sekarang salah satu deputi di Bakom. Jadi, bukan anggota saya lagi itu.” — Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman, Kepala Staf Kepresidenan

Dudung juga menegaskan bahwa tidak ada indikasi keterlibatan pihak luar dalam rangkaian fenomena alam yang terjadi. Menurutnya, bencana alam murni merupakan dinamika alam dan kehendak Tuhan Yang Maha Esa, bukan hasil manipulasi teknologi.

Bantahan Pakar: Erupsi Murni Dinamika Alam

Para ahli kebencanaan dan vulkanologi dengan tegas membantah teori yang dilontarkan Ulta. Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menyatakan bahwa tudingan erupsi akibat rekayasa teknologi sama sekali tidak masuk akal secara ilmu kebumian.

Daryono menjelaskan bahwa energi yang dibutuhkan untuk memicu erupsi berasal dari dinamika mantel Bumi pada kedalaman puluhan hingga ratusan kilometer di bawah permukaan. Tekanan di kantong magma mencapai ratusan MegaPascal, sehingga tidak ada teknologi elektromagnetik maupun ledakan buatan manusia yang sanggup menembus kedalaman kerak Bumi untuk mengubah tekanan fluida silikat tersebut secara sengaja.

Selain itu, Indonesia terletak di Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), sehingga gunung-gunung di wilayah ini memang kerap meletus, bahkan dalam waktu berdekatan. HAARP sendiri telah lama menjadi objek teori konspirasi, namun tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim bahwa proyek tersebut mampu memicu letusan gunung berapi.

Kontroversi Ulta Levenia menjadi cerminan bagaimana teori konspirasi dapat dengan cepat menyebar dan memicu perdebatan publik, terutama ketika disampaikan oleh figur yang memiliki jabatan di lingkungan pemerintahan. Meskipun Ulta kini telah dicopot dari KSP dan pernyataannya dinyatakan tidak mewakili sikap resmi Istana, kasus ini tetap menyisakan pertanyaan tentang batas antara kritik, skeptisisme, dan disinformasi.

Para ahli telah menegaskan bahwa erupsi gunung api adalah murni fenomena alam yang tidak dapat direkayasa oleh teknologi manusia. Namun, diskusi tentang kontroversi Ulta Levenia ini setidaknya menunjukkan bahwa literasi ilmiah dan verifikasi fakta menjadi semakin krusial di era banjir informasi seperti sekarang.

📝 PosNusantara.com — Cepat · Akurat · Terpercaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *