BANDUNG, PosNusantara.com – Lomba Toilet Bersih Kota Bandung tahun 2026 bukan sekadar ajang kompetisi untuk mencari sekolah dengan toilet paling megah atau fasilitas paling lengkap. Lebih dari itu, ajang ini merupakan sebuah gerakan pendidikan yang menekankan pembentukan karakter, pembiasaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta penguatan tata kelola sekolah. Hal ini ditegaskan oleh Pengawas Dinas Pendidikan Kota Bandung, Hendra Kusnrendar, S.Pd.I, yang menekankan bahwa hakikat pendidikan dalam lomba ini adalah mengubah kebersihan dari kegiatan sesaat menjadi kebiasaan, dari kebiasaan menjadi budaya, dan dari budaya menjadi karakter warga sekolah.
Paradigma Baru: Toilet sebagai Ruang Pembelajaran Karakter
Dalam perspektif pendidikan, toilet bukan hanya ruang untuk memenuhi kebutuhan biologis, melainkan juga ruang pembelajaran karakter. Di tempat inilah nilai tanggung jawab, kedisiplinan, kemandirian, kepedulian, dan penghormatan terhadap kepentingan bersama ditanamkan melalui tindakan nyata.
Peserta didik diajarkan bahwa kebersihan bukan semata-mata tugas petugas kebersihan, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh warga sekolah. Pendidikan karakter tidak cukup disampaikan melalui nasihat atau slogan di dalam kelas. Ia harus diwujudkan melalui kebiasaan konsisten, seperti menyiram toilet setelah digunakan, membuang sampah pada tempatnya, dan mencuci tangan dengan sabun.
“Ukuran yang lebih bermakna adalah perubahan perilaku warga sekolah setelah kegiatan tersebut dilaksanakan. Toilet yang bersih karena akan dinilai juri menunjukkan kesiapan menghadapi kompetisi, sedangkan toilet yang tetap bersih setiap hari menunjukkan keberhasilan pendidikan karakter.” — Hendra Kusnrendar, S.Pd.I
Baca juga: Workshop Hubungan Industrial Anyer: Membangun Sinergi Harmonis Pekerja dan Perusahaan

Lima Pilar Penilaian: Standar Baru Kebersihan Sekolah
Kriteria penilaian Lomba Toilet Bersih Kota Bandung dirancang komprehensif, mencakup lima pilar utama yang saling berkaitan:
1. Bersih dan Sehat
Aspek ini meliputi lantai yang tidak licin dan bebas genangan, kloset yang bersih dan tidak berbau, dinding bebas coretan, serta ketersediaan tempat sampah tertutup dan saluran air limbah yang lancar.
2. Kelengkapan Sarana
Penilaian tidak hanya melihat keberadaan fasilitas, tetapi juga fungsinya. Mulai dari air bersih yang mengalir lancar, pintu dan kunci yang berfungsi, sabun cuci tangan, hingga fasilitas Manajemen Kesehatan Menstruasi (MKM) yang mendukung kebutuhan peserta didik perempuan.
3. Aman, Nyaman, dan Ramah Anak
Toilet harus memiliki pencahayaan terang, ventilasi baik, dan privasi yang terjaga. Lantai yang mengurangi risiko terpeleset serta ketersediaan handrail menjadi nilai tambah, termasuk perhatian terhadap aksesibilitas penyandang disabilitas.
4. Pengelolaan dan Partisipasi
Kebersihan yang berkelanjutan ditunjukkan melalui adanya struktur Tim Pokja, jadwal piket harian, tata tertib, buku kontrol, hingga pelibatan orang tua dan komite sekolah.
5. Estetika, Edukasi, dan Inovasi
Poster edukasi 6 langkah cuci tangan, tanaman hidup, pengharum ruangan, serta inovasi seperti “Satu Kelas Satu Toilet Asuh” menjadi poin penting. Inovasi dinilai dari manfaat dan perubahan perilaku yang dihasilkan, bukan sekadar keunikan tampilan.
Peran Vital Pengawas dan Tata Kelola Sekolah
Dalam perspektif kepengawasan, Lomba Toilet Bersih Kota Bandung menjadi momentum pendampingan peningkatan mutu sekolah. Pengawas sekolah berperan membantu sekolah memahami hasil penilaian sebagai informasi untuk perbaikan tata kelola, bukan sekadar ukuran keberhasilan kompetisi.
Terdapat enam langkah yang harus dilakukan pengawas:
-
Identifikasi kondisi awal (ketersediaan fasilitas dan perilaku pengguna).
-
Analisis akar masalah (keterbatasan air atau kerusakan sarana).
-
Penyusunan rencana aksi (penanggung jawab, jadwal, dan indikator).
-
Pelaksanaan pembiasaan (integrasi pendidikan kebersihan ke budaya sekolah).
-
Monitoring dan evaluasi (konsistensi pemeliharaan).
-
Tindak lanjut berkelanjutan (masuk dalam program kerja sekolah).
Aksi Nyata di Lapangan: Penilaian SD Negeri 045 Bandung
Dokumentasi penilaian yang dilakukan pada 22 Oktober 2026 di SD 045 menunjukkan bahwa pengelolaan toilet tidak hanya berkaitan dengan kebersihan fisik, tetapi juga penyampaian pesan edukatif.
Terlihat dalam gambar, pengawas berdiskusi dengan pihak sekolah mengenai kondisi toilet, media edukasi, dan fasilitas yang tersedia. Poster tata cara penggunaan toilet, pengingat mencuci tangan, dan jadwal piket dipasang di dinding. Namun, media edukasi tersebut perlu didukung pelaksanaan dan pemantauan konsisten agar tidak berhenti sebagai pajangan.
Toilet Bersih, Cermin Mutu Pendidikan
Lomba Toilet Bersih Kota Bandung bukan sekadar upaya menghadirkan toilet yang bersih saat dinilai, melainkan ikhtiar membangun karakter, membudayakan PHBS, dan memperkuat tata kelola sekolah yang bertanggung jawab.
Toilet yang bersih mencerminkan kepedulian terhadap kesehatan. Toilet yang aman dan nyaman mencerminkan penghormatan terhadap martabat manusia. Toilet yang terawat mencerminkan kedisiplinan dan tanggung jawab bersama. Sementara itu, sistem pemeliharaan yang berkelanjutan mencerminkan kepemimpinan dan komitmen sekolah terhadap peningkatan mutu pendidikan.
Ketika toilet tetap bersih meskipun tidak ada lomba, ketika peserta didik menjaga fasilitas tanpa harus diingatkan, dan ketika sekolah melakukan pemeliharaan sebagai bagian dari tanggung jawabnya, pada saat itulah hakikat Lomba Toilet Bersih benar-benar terwujud.
📝 PosNusantara.com — Cepat · Akurat · Terpercaya












