banner

Tren ‘Slow Jogging’ di Korea: Lari Santai yang Jadi Gaya Hidup Baru

Slow jogging jadi tren kesehatan di Korea Selatan. Metode lari santai dengan kecepatan 3-6 km/jam yang aman untuk semua usia. Simak manfaat dan cara melakukannya

Slow Jogging di Jeju Korea (foto:istimewa}
banner

PosNusantara.com – Di tengah budaya Korea Selatan yang terkenal dengan ritme hidup cepat dan kompetitif, sebuah tren olahraga justru mengajak masyarakatnya untuk melambat. Namanya: Slow Jogging.

Belakangan ini, slow jogging menjadi fenomena yang viral di Korea Selatan dan mulai menarik perhatian para pencinta kebugaran di seluruh dunia. Berbeda dengan lari pada umumnya yang identik dengan kecepatan dan jarak tempuh, slow jogging mengutamakan kenyamanan, konsistensi, dan keberlanjutan. Metode ini dianggap sebagai pendekatan revolusioner dalam berlari yang dapat dilakukan oleh berbagai kalangan usia.

banner

Apa Itu Slow Jogging?

Slow jogging adalah metode berlari dengan intensitas ringan dan kecepatan sangat lambat, biasanya berkisar antara 3 hingga 6 kilometer per jam—hampir setara dengan kecepatan jalan kaki santai.

Kecepatan ini memungkinkan pelakunya untuk tetap bisa berbicara dan tersenyum tanpa kehabisan napas. Istilah lain yang populer untuk menyebut kecepatan ini adalah “niko niko pace” atau smiling pace, yaitu kecepatan berlari yang masih memungkinkan seseorang untuk tersenyum.

Sejarah dan Perkembangan

Metode slow jogging pertama kali dikembangkan oleh Prof. Hiroaki Tanaka, seorang ahli fisiologi olahraga dari Universitas Fukuoka, Jepang, melalui riset selama lebih dari 40 tahun.

Tanaka mengamati fakta menarik: banyak orang mulai berlari untuk hidup lebih sehat, namun sebagian besar berhenti hanya dalam beberapa minggu karena mereka berlari terlalu cepat, terlalu keras, dan kehilangan kesenangan.

Pada tahun 2015, metode ini mulai masuk ke Korea Selatan dan berkembang pesat menjadi gerakan komunitas yang digemari berbagai kalangan. Setahun kemudian, pada 2016, Korea Slow Jogging Association resmi didirikan.

Mengapa Tren Ini Viral di Korea?

Beberapa faktor membuat slow jogging menjadi tren di Korea Selatan:

  1. Gaya Hidup Padat: Masyarakat Korea dengan rutinitas kerja yang padat mencari olahraga yang mudah dilakukan di taman, pinggir sungai, atau lingkungan sekitar rumah tanpa memerlukan peralatan khusus.

  2. Risiko Cedera Rendah: Kecepatan lambat membuat slow jogging memiliki risiko cedera yang jauh lebih kecil dibandingkan lari dengan kecepatan tinggi.

  3. Media Sosial: Tren ini menyebar luas melalui berbagai platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube.

  4. Budaya Kesehatan: Masyarakat Korea mulai mencari olahraga yang tidak terlalu berat tetapi tetap memberikan manfaat kesehatan.

  5. Perlawanan terhadap Budaya Cepat: Slow jogging menjadi simbol perlawanan terhadap budaya “fast society” Korea yang terkenal dengan kecepatan dan kompetisi tinggi.

Manfaat Slow Jogging

Meskipun terlihat santai, slow jogging memiliki segudang manfaat kesehatan:

  1. Meningkatkan Daya Tahan Tubuh: Meningkatkan fungsi kardiovaskular dan metabolisme.

  2. Membakar Kalori: Meski kecepatan rendah, slow jogging membakar energi hampir dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan jalan kaki biasa.

  3. Melindungi Sendi: Tidak memberikan beban berlebih pada lutut dan persendian.

  4. Mengurangi Stres: Membantu memperbaiki suasana hati dan kesehatan mental.

  5. Aman untuk Semua Usia: Cocok untuk pemula, lansia, maupun mereka yang memiliki berat badan berlebih.

Bagaimana Cara Melakukannya?

Cara melakukan slow jogging cukup sederhana:

  1. Lakukan pemanasan sekitar 5-10 menit.

  2. Berlari dengan kecepatan sangat santai, seperti berjalan cepat, tetapi tetap dengan gerakan berlari kecil.

  3. Gunakan langkah pendek dan ringan.

  4. Usahakan mendaratkan kaki dengan lembut.

  5. Jaga tubuh tetap tegak dengan bahu yang rileks.

  6. Bernapas secara alami.

  7. Lakukan sekitar 20-30 menit secara rutin, lalu tingkatkan durasi secara bertahap.

Komunitas dan Perkembangan

Di Korea Selatan, komunitas slow jogging semakin menjamur. Sebuah program lari dari Pemerintah Metropolitan Seoul yang bernama “My Pace Morning” di Yeouido, Seoul, menjadi salah satu contoh nyata. Dalam acara tersebut, para peserta berlari dengan kecepatan yang nyaman—ada yang sambil mengobrol, mendorong kereta bayi, atau bahkan membawa anjing peliharaan.

Slow Jogging di Indonesia

Menariknya, slow jogging sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Jauh sebelum viral di Korea Selatan, sebuah komunitas bernama ‘Slow Jogging Indonesia’ telah terbentuk sejak 30 Desember 2017. Hal ini menunjukkan bahwa metode berlari santai ini sebenarnya telah lama menjadi bagian dari gaya hidup sehat di Tanah Air.

Slow jogging mengajarkan kita bahwa olahraga tidak selalu harus melelahkan dan menyiksa. Kadang, melambat justru menjadi cara terbaik untuk bertahan lebih lama dan menikmati setiap langkahnya.

📝 PosNusantara.com — Cepat · Akurat · Terpercaya

banner
banner