AKHLAK di Era Danantara: Budaya yang Dipaksakan atau Fondasi yang Akan Diganti?

Mengupas relevansi budaya AKHLAK BUMN di tengah transformasi Danantara. Apakah masih relevan atau akan tergantikan? Simak analisis lengkapnya.

Logo AKHLAK (foto:istimewa)

JAKARTA, PosNusantara.com – Enam tahun sudah jargon “AKHLAK” menggema di lorong-lorong korporasi pelat merah. Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, Kolaboratif—enam nilai yang digaungkan Menteri BUMN Erick Thohir ini diharapkan menjadi fondasi budaya kerja baru bagi seluruh insan BUMN. Namun, di balik gemerlap slogan, pertanyaan kritis mulai mengemuka: apakah AKHLAK masih relevan? Atau justru menjadi budaya yang dipaksakan, yang kini terancam tergeser oleh kehadiran Danantara?

📜 Mengenal AKHLAK: Lahir dari Semangat Transformasi

AKHLAK diperkenalkan sebagai core values atau nilai-nilai utama yang harus menjadi pedoman setiap insan BUMN. Kementerian BUMN menetapkannya sebagai standar budaya etika kerja, dengan harapan dapat menyatukan panduan perilaku di seluruh BUMN yang sebelumnya memiliki budaya masing-masing.

Nilai Makna
Amanah Memegang teguh kepercayaan yang diberikan
Kompeten Terus belajar dan mengembangkan kapabilitas
Harmonis Saling peduli dan menghargai perbedaan
Loyal Berdedikasi dan mengutamakan kepentingan bangsa dan negara
Adaptif Terus berinovasi dan pantang menyerah
Kolaboratif Membangun kerja sama yang sinergis

Nilai-nilai ini diharapkan dapat membentuk budaya kerja yang positif, profesional, dan mendukung kinerja berkelanjutan.

🏛️ Sebelum AKHLAK: Mozaik Budaya yang Beragam

Sebelum AKHLAK hadir, setiap BUMN memiliki budaya kerja yang berbeda-beda, sering kali terbentuk secara organik dari sejarah dan karakteristik bisnis masing-masing. Beberapa contoh budaya yang pernah dikenal antara lain:

  • EPIC — pernah menjadi nilai dasar di sebuah BUMN konstruksi, sebelum akhirnya mengadopsi dan mengombinasikannya dengan AKHLAK.

  • Budaya “Keluarga” — banyak BUMN, terutama BUMN lama, mengusung budaya kekeluargaan yang kuat, dengan hierarki dan loyalitas yang kental.

  • Budaya Birokratis — sebagian BUMN masih mewarisi budaya birokrasi pemerintahan, dengan prosedur yang panjang dan pengambilan keputusan yang sentralistik.

Kehadiran AKHLAK pada dasarnya adalah upaya standardisasi—menyatukan beragam budaya yang ada ke dalam satu kerangka nilai yang seragam. Namun, proses transisi ini tidak berjalan mulus.

Gedung Danantara (foto:istimewa)

🚨 AKHLAK: Antara Slogan dan Kritik

Di atas kertas, AKHLAK adalah nilai-nilai yang sulit dibantah kebaikannya. Namun, di lapangan, implementasinya menuai banyak kritik.

1️⃣ “Budaya yang Dipaksakan”

Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa proses transisi menuju AKHLAK belum optimal, ditandai dengan resistensi karyawan, pemahaman yang kurang, komunikasi yang tidak efektif, krisis kepercayaan, dan kurangnya keteladanan dari pemimpin. Bahkan, seorang peneliti menilai bahwa AKHLAK kurang tepat disebut sebagai budaya perusahaan, karena lebih terasa sebagai instruksi dari atas daripada nilai yang tumbuh dari bawah.

2️⃣ “Hanya Slogan Pencitraan”

Kritik paling keras datang dari pengamat yang menyebut AKHLAK sebagai “isapan jempol” dan “semboyan tanpa implementasi”. Kasus-kasus korupsi yang masih terjadi di tubuh BUMN dinilai sebagai bukti bahwa slogan AKHLAK tak lebih dari alat pencitraan. Bahkan, capaian kinerja di era Erick Thohir dinilai “sangat buruk dan memalukan” oleh sebagian pihak.

3️⃣ Beban Warisan yang Membayangi

Presiden Prabowo Subianto sendiri pernah melontarkan kritik tajam terhadap tata kelola BUMN di masa lalu. Dalam Rapat Koordinasi Nasional di Sentul, Februari 2026, ia memperingatkan para mantan petinggi BUMN untuk bertanggung jawab. “Jangan enak-enak kau. Siap-siap kau dipanggil Kejaksaan,” tegasnya. Di tengah temuan utang yang menggunung, inefisiensi, dan ratusan anak-cucu perusahaan “zombie”, publik mulai mempertanyakan apakah AKHLAK selama ini hanya “kosmetik untuk menutupi pesta pora para pemburu rente”.

🏢 Danantara: Angin Segar atau Ombak Besar?

Kehadiran Danantara (Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara) menjadi titik balik baru. Dengan mandat untuk merampingkan BUMN dari 1.077 entitas menjadi 200–300 perusahaan, Danantara memiliki peta jalan transformasi lima tahun yang ambisius.

📅 Roadmap Lima Tahun Danantara

Tahun Fokus Utama
Tahun 1 Konsolidasi dan restrukturisasi
Tahun 2 Pengembangan SDM dan budaya perusahaan (corporate culture)
Tahun 3 Inovasi dan penerapan AI
Tahun 4 Penciptaan nilai (IPO, kemitraan strategis)
Tahun 5 Pencapaian target kinerja global

Yang menarik, “corporate culture” menjadi salah satu tema utama dalam roadmap ini. Namun, belum ada pernyataan eksplisit bahwa AKHLAK akan dipertahankan atau diganti. Danantara justru memperkenalkan tagline baru: “Melayani Dengan Sepenuh Hati”, sebagai inti komitmen mengubah budaya kerja BUMN.

Gedung BP BUMN (foto: PosNusantara.com)

🧭 Budaya Baru yang Lebih Humanis?

Salah satu contoh nyata perubahan pendekatan adalah kasus Kakek Mujiran, seorang lansia yang dilaporkan PTPN karena mengambil sisa getah karet. COO Danantara, Dony Oskaria, turun tangan menegur keras manajemen PTPN.

“Saya mengecam keras tindakan pelaporan dan kriminalisasi terhadap rakyat kecil. BUMN ini adalah milik rakyat… Tidak boleh ada sedikit pun ruang bagi BUMN untuk bersikap arogan.”

Dony memerintahkan PTPN mencabut laporan, meminta maaf, dan memberikan pekerjaan kepada korban. Kasus ini menjadi peringatan keras (red flag) bagi seluruh direksi BUMN, menandakan pendekatan yang lebih humanis dan restoratif.

🔮 AKHLAK: Bertahan atau Terganti?

Pertanyaan besarnya: akankah AKHLAK bertahan di era Danantara?

Beberapa skenario mungkin terjadi:

  1. AKHLAK Dipertahankan, Diperkuat — Danantara bisa mengadopsi AKHLAK sebagai fondasi budaya, namun dengan implementasi yang lebih serius dan terukur.

  2. AKHLAK Direformasi — Nilai-nilai AKHLAK mungkin direvisi atau diperluas, misalnya dengan menambahkan elemen humanis, inovatif, atau digital.

  3. AKHLAK Diganti Total — Danantara bisa meluncurkan core values baru, sejalan dengan tagline “Melayani Dengan Sepenuh Hati” dan semangat transformasi yang lebih modern.

Yang jelas, AKHLAK tidak bisa lagi sekadar slogan. Publik dan para pemangku kepentingan menuntut implementasi nyata, bukan sekadar pajangan di dinding kantor.

🏁 Antara Harapan dan Kenyataan

AKHLAK lahir dari niat mulia: menyatukan dan membentuk karakter insan BUMN. Namun, jalan menuju implementasi yang efektif masih panjang. Kritik tentang “budaya yang dipaksakan”, “slogan kosong”, dan “alat pencitraan” adalah alarm yang tak bisa diabaikan.

Kehadiran Danantara membawa angin segar sekaligus ketidakpastian. Di satu sisi, ada harapan akan tata kelola yang lebih baik dan budaya yang lebih humanis. Di sisi lain, pertanyaan tentang nasib AKHLAK masih menggantung.

Yang pasti, transformasi budaya BUMN tidak akan terjadi hanya dengan mengganti slogan. Ia membutuhkan keteladanan dari pimpinan, keterlibatan seluruh karyawan, dan komitmen untuk terus belajar dan berbenah. Dan dalam proses itu, mungkin kita akan melihat lahirnya budaya baru yang lebih sesuai dengan semangat zaman—dan lebih dari sekadar kata-kata indah di atas kertas.

📝 PosNusantara.com — Cepat · Akurat · Terpercaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *