Bersyukur Masih Bekerja: Antara Pasrah, Apatis, dan Psikologi Bertahan Hidup

Bersyukur masih bekerja psikologi: simak bedah learned helplessness, toxic positivity, disonansi kognitif, dan dampaknya bagi pekerja Indonesia.

Pekerjaan Yantek

JAKARTA, PosNusantara.com – Bersyukur masih bekerja psikologi adalah fenomena yang akrab di telinga para pekerja Indonesia. Kalimat itu terucap pelan, seringkali di sela-sela keluhan tentang gaji yang tak naik, beban kerja yang menumpuk, atau atasan yang tak kunjung peduli. “Ya sudah, kita harus bersyukur masih bekerja.” Satu kalimat yang sederhana, namun menyimpan lapisan psikologi yang dalam. Apakah ini bentuk pasrah, apatis, atau justru mekanisme bertahan hidup yang telah terinternalisasi selama bertahun-tahun? Liputan khusus PosNusantara.com mencoba membedah fenomena bersyukur masih bekerja psikologi ini dari kacamata psikologi.

Fenomena Bersyukur Masih Bekerja Psikologi di Dunia Kerja Indonesia

Fenomena bersyukur masih bekerja psikologi bukan isapan jempol. Survei Indonesia Labor Market Report 2026 menunjukkan bahwa 67% pekerja Indonesia tidak berencana mencari pekerjaan baru dalam 12 bulan ke depan, meskipun 52% di antaranya mengaku tidak puas dengan pekerjaan mereka saat ini. Artinya, ada jurang yang lebar antara ketidakpuasan dan tindakan.

Kalimat “ya sudah, kita harus bersyukur masih bekerja” menjadi jembatan yang menutupi jurang itu. Ia berfungsi sebagai perisai verbal yang melindungi pekerja dari kekecewaan yang lebih dalam. Dalam banyak kasus, kalimat ini bukan diucapkan dengan kebahagiaan, melainkan dengan nada pasrah yang dalam. Inilah yang membuat kajian bersyukur masih bekerja psikologi menjadi relevan untuk dibahas secara mendalam.

Sumber: Kompas 

Psikologi Pasrah: Learned Helplessness dan Rasa Tak Berdaya

Dalam psikologi, fenomena bersyukur masih bekerja ini dikenal sebagai learned helplessness—konsep yang pertama kali diperkenalkan oleh Martin Seligman pada 1967. Eksperimennya pada anjing yang diberi sengatan listrik tanpa bisa menghindar menunjukkan bahwa setelah berkali-kali gagal, subjek berhenti mencoba melarikan diri, bahkan ketika pintu keluar dibuka.

Pada manusia, learned helplessness terjadi ketika seseorang mengalami kegagalan berulang dalam mengubah kondisi hidupnya. Pekerja yang telah bertahun-tahun mengalami:

  • Gaji yang stagnan

  • Beban kerja yang terus bertambah

  • Janji promosi yang tak kunjung terealisasi

  • Suara yang tak didengar

…akan sampai pada titik di mana ia berhenti berharap. Kalimat “ya sudah, kita harus bersyukur masih bekerja” adalah manifestasi dari kondisi ini—bukan karena ia benar-benar bersyukur, melainkan karena otaknya telah memutus koneksi antara usaha dan hasil.

“Learned helplessness terjadi ketika individu percaya bahwa tidak ada hubungan antara tindakan mereka dengan hasil yang mereka terima. Mereka menyerah bukan karena malas, tetapi karena otak telah dilatih untuk percaya bahwa usaha tidak akan mengubah apa pun.” — Martin Seligman, Learned Optimism

Baca juga :

HR Mahal Karyawan Potensial Jobdesk: Paradoks Organisasi Modern yang Wajib Diatasi

Peran HRD Organisasi Komunikasi 2026: Transformasi dari Administratif Menjadi Arsitek Budaya

Peran Strategis HRD: Penting atau Sekadar Pelengkap Penderita?

Apatis atau Bertahan? Membedakan Dua Wajah yang Mirip

Seringkali, pasrah dan apatis dianggap sama. Padahal, keduanya memiliki akar psikologi yang berbeda. Dalam konteks bersyukur masih bekerja psikologi, penting untuk membedakan keduanya:

Aspek Pasrah (Resignation) Apatis (Apathy)
Definisi Menerima keadaan karena merasa tak berdaya Kehilangan minat dan emosi terhadap pekerjaan
Emosi Sedih, kecewa, tetapi masih peduli Hampa, tidak peduli, mati rasa
Motivasi Masih ada harapan tersembunyi Tidak ada harapan sama sekali
Perilaku Tetap bekerja, tetapi tanpa semangat Menghindari tanggung jawab, quiet quitting
Psikologis Learned helplessness Burnout tahap lanjut

Kalimat “ya sudah, kita harus bersyukur masih bekerja” lebih condong ke pasrah daripada apatis. Pekerja yang mengucapkannya masih peduli—ia masih merasa kecewa, masih berharap ada perubahan, tetapi ia telah kehilangan agency (kemampuan untuk bertindak). Ia memilih untuk bertahan karena tidak melihat jalan keluar yang realistis.

Toxic Positivity: Ketika Bersyukur Menjadi Alat Pembungkam

Ada sisi gelap dari budaya “bersyukur” di tempat kerja: toxic positivity. Ini adalah keyakinan bahwa seseorang harus selalu berpikir positif dan menyembunyikan emosi negatif, apa pun yang terjadi. Dalam kajian bersyukur masih bekerja psikologi, toxic positivity menjadi salah satu faktor yang memperkuat fenomena ini.

Dalam konteks ketenagakerjaan, toxic positivity sering digunakan untuk:

  1. Membungkam keluhan pekerja yang legitimate

  2. Membenarkan eksploitasi dengan narasi “masih banyak yang tidak punya pekerjaan”

  3. Menghindari perbaikan sistemik dengan menyalahkan individu yang “kurang bersyukur”

Kalimat “ya sudah, kita harus bersyukur masih bekerja” dalam konteks ini bukan lagi ekspresi syukur yang tulus, melainkan alat kontrol sosial yang membuat pekerja merasa bersalah jika mengeluh.

“Toxic positivity adalah ketika kita memaksa diri sendiri atau orang lain untuk merasa positif, padahal emosi negatif itu valid dan perlu diakui.” — Dr. Susan David, Psikolog Harvard

Pelayanan Teknik (Yantek) memiliki peran vital dalam memastikan keandalan jaringan listrik. Mereka bertugas dalam pengoperasian, pemeliharaan, inspeksi jaringan distribusi, serta perbaikan jaringan dan kWh meter. Di area Grogol, personel Yantek HPI menjadi garda terdepan yang siap diturunkan kapan saja untuk menangani gangguan kelistrikan. Foto : PosNusantaracom

Disonansi Kognitif: Membenarkan Penderitaan agar Tetap Waras

Mengapa pekerja yang tidak puas tetap bertahan? Jawabannya bisa ditemukan dalam teori disonansi kognitif yang dikemukakan oleh Leon Festinger pada 1957.

Ketika seseorang mengalami konflik antara keyakinan dan kenyataan—misalnya, “saya bekerja keras” vs “saya tidak dihargai”—otak akan berusaha mengurangi ketidaknyamanan ini dengan mengubah salah satu sisi. Karena mengubah kenyataan (misalnya, dengan mencari pekerjaan baru) terlalu berisiko, otak memilih untuk mengubah keyakinan.

Hasilnya: “Ya sudah, kita harus bersyukur masih bekerja.” Kalimat ini adalah mekanisme pertahanan ego yang membantu pekerja tetap waras di tengah kondisi yang tidak ideal. Dalam perspektif bersyukur masih bekerja psikologi, ini adalah bentuk adaptasi kognitif yang dilakukan otak untuk melindungi kesehatan mental.

Sumber: Psychology Today 

Dampak Jangka Panjang: Dari Pasrah Menuju Burnout dan Quiet Quitting

Meskipun kalimat “bersyukur masih bekerja” bisa menjadi mekanisme bertahan hidup jangka pendek, dampak jangka panjangnya bisa merugikan pekerja dan perusahaan. Inilah sisi lain dari bersyukur masih bekerja psikologi yang perlu diwaspadai.

Bagi Pekerja

  1. Burnout: Kelelahan emosional yang kronis akibat terus-menerus menekan perasaan negatif.

  2. Penurunan Kesehatan Mental: Kecemasan, depresi, dan learned helplessness yang semakin dalam.

  3. Stagnasi Karier: Pekerja yang pasrah cenderung tidak mengembangkan diri karena merasa usaha tidak akan membuahkan hasil.

Bagi Perusahaan

  1. Quiet Quitting: Pekerja tetap bekerja, tetapi hanya sebatas jobdesk—tidak ada inisiatif, tidak ada inovasi.

  2. Penurunan Produktivitas: Pekerja yang pasrah bekerja tanpa jiwa, menghasilkan output yang minimal.

  3. Kehilangan Talenta Terbaik: Pekerja yang masih memiliki agency akan memilih keluar, meninggalkan mereka yang benar-benar terjebak.

Ketika Bersyukur Bukan Lagi Pilihan, Melainkan Pertahanan

“Ya sudah, kita harus bersyukur masih bekerja.”

Kalimat ini bukanlah cerminan dari kebahagiaan, melainkan pertahanan. Ia adalah dinding tipis yang melindungi pekerja dari kekecewaan yang lebih dalam. Ia adalah bisikan otak yang mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa semuanya baik-baik saja, meskipun hati kecil berkata sebaliknya.

Apakah ini pasrah? Ya. Apakah ini apatis? Tidak sepenuhnya. Ini adalah strategi bertahan hidup yang dipilih oleh mereka yang telah kehilangan ruang untuk berharap. Dalam kajian bersyukur masih bekerja psikologi, fenomena ini adalah cermin dari kondisi ketenagakerjaan yang lebih luas—di mana pekerja merasa tidak berdaya untuk mengubah nasibnya.

Namun, sebagaimana diingatkan oleh Viktor Frankl dalam Man’s Search for Meaning: “Ketika kita tidak lagi mampu mengubah situasi, kita ditantang untuk mengubah diri kita sendiri.” Mengubah diri, bukan dengan menekan perasaan, melainkan dengan mengakui emosi dan mencari makna—bahkan dalam pekerjaan yang paling tidak ideal sekalipun.

Dan bagi perusahaan, kalimat ini harus menjadi alarm, bukan pujian. Karena ketika pekerja mulai bersyukur hanya karena masih bekerja, itu artinya mereka telah berhenti berharap—dan itu adalah kerugian terbesar bagi organisasi mana pun.

📝 PosNusantara.com — Cepat · Akurat · Terpercaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *