Cicadas dari Masa ke Masa: Dari Bioskop Misbar, Preman, hingga Penertiban PKL 2026

Menelusuri sejarah panjang kawasan Cicadas Bandung: dari pusat hiburan malam era 80-an, julukan 'negara beling', hingga penertiban PKL untuk proyek BRT di 2026

Jl. A. Yani Cicadas disaat pagi (8/8/26) (foto:PosNusantara.com)

Cicadas dari Masa ke Masa: Dari Pusat Hiburan Malam hingga Simbol Pergulatan PKL

BANDUNG, PosNusantara.com – Jalan Ahmad Yani di kawasan Cicadas, Bandung Timur, hari ini mungkin lebih dikenal sebagai titik kemacetan atau deretan lapak pedagang kaki lima (PKL) yang memadati trotoar. Namun, bagi warga yang tumbuh di era 80-an dan 90-an, nama Cicadas membawa serta segudang kenangan: gemerlap lampu bioskop, deru suara biliar, hingga aroma jajanan malam yang menggoda.

Kawasan ini menyimpan sejarah panjang yang telah bertahan lintas generasi—dari pusat hiburan malam yang gemerlap, kawasan yang dikenal angker dengan julukan “negara beling”, hingga kini menjadi simbol pergulatan antara ekonomi rakyat dan tata kota. Berikut perjalanan Cicadas dari masa ke masa hingga 2026.

Awal Mula: Denyut Ekonomi Sejak 1948

Sejarah Cicadas sebagai pusat kegiatan ekonomi dimulai jauh sebelum Indonesia merdeka. Aktivitas perdagangan di kawasan ini sudah berlangsung sejak tahun 1948, atau pada era setelah masa kolonial Belanda.

Kawasan ini tumbuh sebagai salah satu titik perdagangan utama di Bandung Timur. Ketua Persatuan PKL Cicadas, Suherman, menyatakan bahwa keberadaan pedagang di kawasan ini telah melintasi berbagai era kepemimpinan Wali Kota Bandung. Awalnya, para pedagang berjualan dengan tenda-tenda sederhana, sebelum akhirnya berkembang menjadi deretan kios yang lebih permanen.

Era Kejayaan: Bioskop Misbar dan Pusat Hiburan Malam

Puncak kejayaan Cicadas terjadi pada era 1980-an hingga 1990-an. Kawasan ini menjelma menjadi pusat hiburan malam yang paling bergengsi di Bandung Timur. Pada akhir pekan, warga dari berbagai penjuru kota hilir mudik menyeberangi Jalan Ahmad Yani yang saat itu bernama De Groote Post Weg.

Bioskop Misbar: Taman Hiburan, Ramayana, dan Cahaya

Tiga nama bioskop legendaris menjadi ikon Cicadas pada masanya: Taman Hiburan, Ramayana, dan Cahaya. Ketiganya dikenal sebagai bioskop misbar—singkatan dari “gerimis bubar”—karena ruang pertunjukannya terbuka tanpa atap. Begitu hujan turun, penonton otomatis bubar.

Bioskop Taman Hiburan menjadi yang paling populer karena memiliki area menonton paling luas. Sementara itu, Bioskop Cahaya juga dikenal dengan ciri khas lampu berwarna merah yang menjadi penanda.

Pusat Perbelanjaan dan Hiburan Lainnya

Selain bioskop, kawasan ini dipenuhi pusat perbelanjaan seperti Kalimas, Horizon, dan Super Bazaar. Setelah toko-toko tutup sekitar pukul 19.00-20.00, suasana malam berganti dengan gemerlap lampu tenda kuliner dan suara dari gedung biliar Kandaga.

Bahkan, tempat hiburan lain seperti Taman Gumbira dan Bioskop Nirwana turut meramaikan kawasan iniToko Kaset yang menjamur di ruas Cicadas juga menjadi saksi bisu kejayaan industri musik kala itu.

“Negara Beling”: Sisi Gelap Cicadas

Di balik gemerlapnya hiburan malam, Cicadas juga menyimpan reputasi kelam. Kawasan ini dikenal sebagai “negara beling”—julukan yang melekat karena dianggap sebagai sarang para bromocorah atau preman.

Preman dan Copet

Pada masa itu, Cicadas dikenal sebagai wilayah yang keras. Julukan “Gang 1.000 Punten” (seribu maaf) menggambarkan bagaimana kawasan ini menjadi pusat aktivitas preman, pencuri, dan pencopet. Seorang warga yang tinggal di Cicadas pada tahun 1959 hingga 1980-an menceritakan bahwa profesi seperti copet dan preman adalah bagian dari keseharian masyarakat marginal di sana.

“Cicadas itu sarangnya pemabuk, penjudi, pencuri, dan last but not list pencopét.”

Para preman dan copet kerap memicu keributan di tempat-tempat hiburan seperti gedung biliar Kandaga. Perkelahian sering dipicu oleh masalah sepele seperti senggolan atau persoalan perempuan.

Ninja Cicadas dan Tukang Tonjol

Kisah legendaris “Ninja Cicadas” juga menjadi bagian dari folklor urban Bandung pada masa itu. Istilah “tukang tonjol” atau tukang pukul pun menjadi salah satu profesi “gelap” yang identik dengan kawasan ini.

Transformasi: Meredupnya Kemegahan

Memasuki era 2000-an, pamor Cicadas perlahan memudang. Sejumlah pusat pertokoan, bioskop, dan gedung biliar Kandaga mulai tutup satu per satu. Di saat yang sama, trotoar di kedua sisi jalan mulai dipenuhi tenda semi-permanen PKL yang menutupi deretan toko-toko lama.

Keberadaan PKL di kawasan ini sudah dimulai sejak awal 1970-an, dan menjelang pergantian milenium jumlahnya diperkirakan mencapai lebih dari 1.000 lapak. Akibatnya, fasad bangunan yang semestinya menjadi etalase pertokoan tenggelam di balik deretan tenda.

Puncak kemerosotan terjadi saat pandemi COVID-19 melanda. Seorang pedagang, Nanang (50), yang telah berjualan kue di Cicadas selama lima tahun, mengaku pendapatannya menurun drastis. Dede Darnika (59), pedagang yang sudah 23 tahun berjualan di Cicadas, bahkan pernah mengalami hari tanpa penjualan sama sekali.

“Dulu bisa dapat Rp 100-200 ribu sehari, tapi lama-lama menurun.” — Dede Darnika, pedagang Cicadas

2026: Penertiban dan Wajah Baru

Memasuki tahun 2026, Cicadas kembali menjadi sorotan. Pemerintah Kota Bandung bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat menata kawasan Cicadas agar trotoar kembali bebas dari lapak PKL. Penertiban ini dilakukan untuk pembangunan koridor Bus Rapid Transit (BRT) yang akan melintasi kawasan tersebut.

Penertiban Bertahap

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan memastikan penertiban dilakukan secara humanis dengan mengedepankan dialog panjang bersama para pedagang. Proses pembongkaran lapak rampung pada 19 Mei 2026 dini hari.

“Kalau mau menggusur orang itu harus ngobrol dulu. Memang prosesnya lama, tapi hasilnya lebih baik.” — Muhammad Farhan, Wali Kota Bandung

Pemkot Bandung menyiapkan beberapa opsi bagi para PKL terdampak: relokasi ke Pasar atau BTM, serta arahan untuk berjualan melalui marketplace digital. Namun, para pedagang mengaku lebih memilih kompensasi karena khawatir lokasi baru justru membuat usaha semakin sepi.

Wajah Baru Cicadas

Setelah penertiban, fokus pemerintah beralih pada pembenahan infrastruktur dasar, terutama sistem drainase yang selama ini terganggu karena tertutup bangunan dan lapak PKL.

Bersihnya trotoar Cicadas membuka kembali ingatan kolektif warga Bandung mengenai masa kejayaan kawasan ini di era 1980-an hingga 1990-an. Bangunan-bangunan yang lama tersembunyi kini kembali terlihat, membangkitkan kenangan tentang pusat belanja dan hiburan yang pernah menjadi denyut malam di Cicadas.

Cicadas adalah cermin perjalanan Kota Bandung sendiri. Dari pusat hiburan malam yang gemerlap dengan bioskop misbar, gedung biliar, dan pertokoan megah, hingga menjadi simbol perjuangan ekonomi rakyat di balik tenda-tenda PKL. Kini, di tahun 2026, kawasan ini kembali bertransformasi menuju wajah baru yang lebih tertib.

Meskipun kenangan tentang Ramayana, Taman Hiburan, dan Cahaya mungkin perlahan memudar, semangat Cicadas tetap hidup—dalam ingatan kolektif warga Bandung, dalam perjuangan para pedagang, dan dalam kreativitas mantan preman yang menciptakan inovasi untuk masa depan.

📝 PosNusantara.com — Cepat · Akurat · Terpercaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *