SIDOARJO, PosNusantara.com – Kisah PT Ispat Indo adalah salah satu narasi paling epik sekaligus tragis dalam sejarah industri nasional. Bermula dari pabrik kecil di atas lahan bekas persawahan di Waru, Sidoarjo, pada 1976, perusahaan ini tumbuh menjadi pabrik baja raksasa dengan kapasitas produksi 600.000-700.000 ton per tahun. Namun, pada Agustus 2025, babak baru dimulai: pabrik yang menjadi cikal bakal kerajaan baja dunia milik Lakshmi Mittal ini resmi berhenti beroperasi dan gulung tikar. Apa yang menyebabkan raksasa industri ini tumbang?
Kilas Balik: Dari Sidoarjo ke Puncak Dunia
PT Ispat Indo didirikan pada 1976 oleh Lakshmi Narayan Mittal, seorang pengusaha muda asal India yang datang ke Surabaya untuk mengembangkan bisnis baja keluarganya. Di atas lahan seluas 16,5 hektare di Waru, Sidoarjo, ia membangun pabrik dengan kapasitas awal 60.000 ton per tahun.
Keberhasilan di Sidoarjo menjadi fondasi awal imperium bisnis baja Mittal. Dari sini, ia berekspansi ke berbagai negara dan pada 2006 melakukan merger spektakuler membentuk ArcelorMittal, perusahaan baja terbesar di dunia. Kini, kekayaan Lakshmi Mittal diperkirakan mencapai USD 25,3 miliar.
Namun, di tengah kesuksesan global sang pendiri, pabrik pertamanya di Sidoarjo justru mengalami nasib sebaliknya.
Penyebab Kehancuran: Kombinasi Mematikan
Keruntuhan PT Ispat Indo bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi dari tiga pukulan mematikan yang datang secara bersamaan.
1. Gempuran Baja Impor Murah dari China
Ini adalah faktor utama yang disebutkan oleh berbagai pihak, mulai dari serikat pekerja hingga Direktur Utama PT Krakatau Steel. Banjirnya produk baja murah dari China membuat produk dalam negeri, termasuk Ispat Indo, tidak mampu bersaing di pasar domestik.
Ketua PUK SPL FSPMI PT Ispat Indo, Yuzak Daud Silloy, secara tegas menyatakan bahwa penutupan ini adalah dampak berkepanjangan dari kebijakan impor baja dari Tiongkok yang melemahkan industri baja nasional.
Direktur Utama Krakatau Steel, Akbar Djohan, bahkan menyebut Ispat Indo sebagai salah satu korban dari fenomena ini. “Gempuran produk impor ini membuat pabrik baja raksasa di Surabaya, PT Ispat Indo, juga gulung tikar pada Oktober lalu,” ujarnya dalam rapat dengan Komisi VI DPR.
2. Kenaikan Biaya Produksi Akibat Regulasi Lingkungan
Selain serbuan impor, pabrik ini juga menghadapi tekanan dari dalam negeri. Industri insider menyebutkan bahwa kenaikan biaya produksi yang disebabkan oleh persyaratan perlindungan lingkungan di Indonesia menjadi salah satu alasan penutupan.
3. Masalah Internal: PHK Berkedok Pensiun Dini
Sejak awal 2025, isu Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sudah mulai merebak. Pada Mei 2025, manajemen PT Ispat Indo mulai menyebarkan surat tawaran “pensiun dini” dengan pesangon 1,75 kali ketentuan yang berlaku. Serikat pekerja menilai ini sebagai modus PHK berkedok pensiun dini dan upaya membungkam serikat pekerja.
Bahkan, pada 6 Mei 2025, serikat pekerja sudah mengancam akan melakukan unjuk rasa karena perusahaan berencana mem-PHK seluruh pekerja di bagian peleburan dengan alasan efisiensi.

Dampak dan Kronologi Keruntuhan
Mei 2025: Penutupan Line Produksi
PT Ispat Indo menutup line produksi batang kawat (wire rod) berkapasitas 600.000 ton per tahun—yang mencakup 75% dari total kapasitas produksi baja.
Agustus 2025: Pengumuman Resmi Penutupan
Pada 12 Agustus 2025, manajemen secara resmi mengumumkan bahwa pabrik akan berhenti beroperasi, dengan hari terakhir aktivitas kerja pada 25 Agustus 2025. Seluruh pekerja akan menerima pesangon sesuai ketentuan undang-undang.
Oktober 2025: Gulung Tikar Total
Direktur Utama Krakatau Steel mengkonfirmasi bahwa PT Ispat Indo gulung tikar pada Oktober 2025. Penutupan ini bahkan terjadi sebelum PT Krakatau Osaka Steel—patungan Krakatau Steel dengan perusahaan Jepang—yang juga tutup pada April 2026 akibat faktor yang sama.
Dampak pada Pekerja
Penutupan ini menjadi pukulan berat bagi FSPMI Jawa Timur, yang kehilangan salah satu Pimpinan Unit Kerja (PUK) tertua dan pelopor perjuangan buruh di provinsi tersebut. Ini bukan hanya soal kehilangan anggota, tetapi juga hilangnya saksi sejarah panjang perjuangan buruh di sektor baja.
Warisan yang Tersisa: Limbah dan PHK
Meski pabrik telah berhenti beroperasi sejak Agustus 2025, masalah yang ditinggalkan justru masih berlanjut hingga 2026.
1. Limbah B3 yang Belum Terselesaikan
Warga Desa Kedungturi, Taman, Sidoarjo, masih mengadukan dugaan pencemaran lingkungan akibat aktivitas industri baja PT Ispatindo yang disebut-sebut meninggalkan dampak limbah, termasuk kategori bahan berbahaya dan beracun (B3).
Meski perusahaan telah berhenti beroperasi, warga menilai persoalan lingkungan belum terselesaikan. Bahkan, muncul dugaan hilangnya ratusan meter aliran sungai atau saluran irigasi akibat aktivitas pabrik, yang mendorong kuasa hukum warga untuk mendesak audit dokumen perizinan.
2. Dugaan PHK Sepihak
Pasca penutupan, muncul laporan mengenai dugaan praktik PHK yang tidak sesuai prosedur, dengan modus pensiun dini yang merugikan pekerja.
PT Ispat Indo adalah monumen sekaligus kuburan bagi industri baja nasional. Lahir sebagai pabrik rintisan yang menjadi cikal bakal kerajaan baja dunia, ia tumbang di tangan gempuran baja murah impor, biaya produksi yang membengkak, dan masalah internal yang tidak terselesaikan.
Kisah ini menjadi pengingat pahit bahwa kejayaan masa lalu tidak menjamin kelangsungan hidup di masa depan tanpa perlindungan industri yang memadai dan tata kelola yang baik. Kini, yang tersisa dari pabrik baja raksasa di Sidoarjo ini hanyalah kenangan, ratusan pekerja yang kehilangan mata pencaharian, dan persoalan limbah yang masih membayangi warga sekitar.
📝 PosNusantara.com — Cepat · Akurat · Terpercaya












