JAKARTA, PosNusantara.com – Ada satu hal yang menarik perhatian dalam laporan keuangan kuartal I-2026 PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Di tengah raksasa induk yang masih merugi hingga Rp805 miliar, anak usahanya, Citilink, justru mencatatkan hasil positif dan kinerja cemerlang. Fenomena Citilink untung, Garuda rugi ini bagaikan “dua wajah berbeda” dalam satu keluarga besar BUMN penerbangan, memicu pertanyaan tentang strategi dan masa depan grup.
Citilink ‘Tokcer’ di Awal 2026: Laba dan Ekspansi Agresif
Citilink, maskapai berbiaya rendah (LCC) milik Garuda Indonesia, mencatatkan kinerja yang impresif di awal 2026. Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, memastikan bahwa Citilink berhasil membukukan hasil positif pada kuartal I-2026. Kabar baik ini bahkan disampaikan langsung oleh Bos Danantara sebagai bukti awal kebangkitan Grup Garuda.
Keberhasilan ini tidak lepas dari intervensi strategis Danantara yang menggelontorkan dana segar sebesar Rp23,67 triliun ke Garuda Group pada akhir 2025. Sebanyak 63% dari dana tersebut, atau sekitar Rp14,9 triliun, dialokasikan khusus untuk memperkuat operasional Citilink, termasuk pelunasan utang bahan bakar kepada Pertamina.
Armada dan Rute Bertambah
Dampaknya terlihat nyata. Hingga akhir Juni 2026, Citilink berhasil mengoperasikan 43 armada pesawat, meningkat tajam dari 25 armada pada periode yang sama tahun sebelumnya. Lonjakan armada ini diikuti dengan peningkatan frekuensi penerbangan rata-rata 221 penerbangan per hari atau naik 21% dibandingkan semester II-2025.
Citilink juga agresif membuka rute baru dan menghidupkan kembali rute lama. Sepanjang semester I-2026, maskapai ini kembali mengoperasikan rute Jakarta (Halim Perdanakusuma) – Padang, Jakarta – Pekanbaru, Makassar – Palu, dan Jakarta – Malang. Ekspansi berlanjut pada Agustus 2026 dengan kembali melayani penerbangan dari Bandara Husein Sastranegara, Bandung, dengan lima rute baru.
Pendapatan tahunan Citilink pada 2026 tercatat mencapai US$535,6 juta.
Garuda Indonesia: Masih Terpuruk di Tengah Sinyal Pemulihan
Di sisi lain, Garuda Indonesia sebagai induk masih harus bergulat dengan kerugian. Sepanjang tahun 2025, Garuda mencatatkan rugi bersih sebesar **US$319,39 juta atau sekitar Rp5,42 triliun**. Kerugian ini melonjak drastis dari US$69,77 juta pada 2024, terutama akibat banyaknya pesawat yang grounded dan biaya sewa yang tinggi.
Memasuki kuartal I-2026, Garuda masih mencatatkan rugi bersih **US$41,62 juta atau sekitar Rp707,49 miliar**. Meski masih merah, angka ini menunjukkan **penurunan kerugian sebesar 45,2%** dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan usaha pun naik 5,3% menjadi US$762,3 juta.
COO Danantara, Dony Oskaria, menyebut bahwa sinyal pemulihan Grup Garuda sudah mulai terlihat, ditandai dengan kinerja positif Citilink. Namun, ia juga mengakui bahwa masih ada banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
“Kita masih banyak PR-nya yang terus kita lakukan. Karena kan tidak cukup hanya dengan memberikan uang.” — Dony Oskaria, COO Danantara

Kontras ‘Anak Kandung’ vs ‘Induk Semesta’
Perbedaan kinerja antara Citilink dan Garuda menyoroti fenomena menarik dalam dunia korporasi:
| Aspek | Citilink (Anak Usaha) | Garuda Indonesia (Induk) |
|---|---|---|
| Kinerja Kuartal I-2026 | Positif / Untung | Rugi US$41,62 Juta |
| Armada (Juni 2026) | 43 pesawat (naik dari 25) | Target 68 pesawat |
| Strategi | Agresif ekspansi rute & armada | Restrukturisasi & efisiensi |
| Penyebab Kinerja | Modal kerja & dukungan Danantara | Banyak pesawat grounded & biaya sewa tinggi |
Fenomena Citilink untung, Garuda rugi ini bahkan memunculkan wacana di DPR agar Garuda disubsidi silang oleh Citilink. Anggota DPR Nasril Bahar menilai, “Garuda Indonesia memang susah bangkit, tapi bisa subsidi silang dengan Citilink” .
Danantara: Intervensi dan Transformasi Garuda Group
Suntikan modal Danantara sebesar Rp23,67 triliun menjadi faktor penting dalam pemulihan Grup Garuda. Dana ini dialokasikan untuk:
-
Modal kerja (Rp8,7 triliun / 37%): Pemeliharaan pesawat dan peningkatan layanan
-
Penguatan Citilink (Rp14,9 triliun / 63%): Operasional dan pelunasan utang ke Pertamina
Danantara juga mendorong peningkatan standar layanan Garuda Group secara menyeluruh, mulai dari pre-flight, in-flight, hingga post-flight. COO Danantara menegaskan bahwa transformasi harus berjalan seiring dengan pendanaan.
“Intervensi kita itu baru dicairkan di akhir (2025). Nanti akan terlihat performa di awal 2026.” — Dony Oskaria
Holding Maskapai BUMN: Masa Depan Garuda, Citilink, dan Pelita Air
Ke depan, Danantara menargetkan pembentukan holding maskapai BUMN yang akan selesai pada semester I-2026. Holding ini akan menggabungkan Garuda Indonesia, Citilink, dan Pelita Air.
Garuda Indonesia akan menjadi holding maskapai, sementara Pelita Air akan digabung ke dalam Garuda. Namun, rencana merger Garuda dengan Pelita Air masih dalam tahap kajian dan pembahasan.
Fenomena Citilink untung, Garuda rugi mencerminkan dinamika kompleks dalam grup BUMN penerbangan. Di satu sisi, Citilink menunjukkan bahwa strategi LCC dengan dukungan modal yang tepat mampu menghasilkan kinerja positif. Di sisi lain, Garuda sebagai full-service carrier masih harus berjuang keras keluar dari kubangan kerugian.
Dengan intervensi Danantara dan rencana pembentukan holding maskapai, masa depan Grup Garuda diharapkan semakin cerah. Namun, seperti diingatkan Dony Oskaria, transformasi bukan hanya soal suntikan dana, tetapi juga perbaikan tata kelola dan bisnis secara menyeluruh.
📝 PosNusantara.com — Cepat · Akurat · Terpercaya












