Nasib Pelita Air di Tengah Merger dengan Garuda dan Kebijakan Danantara Tutup BUMN Merugi

Nasib Pelita Air Garuda Danantara: Bagaimana nasib maskapai Pelita Air di tengah rencana merger dengan Garuda dan kebijakan Danantara menutup BUMN merugi? Simak analisis lengkapnasib Pelita Air dan transformasi BUMN di sini.

Garuda

JAKARTA, PosNusantara.com – Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara terus melakukan perampingan besar-besaran terhadap Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Kebijakan ini menyasar perusahaan-perusahaan pelat merah yang terus merugi dan dianggap tidak produktif. Di tengah kebijakan tersebut, nasib Pelita Air Garuda Danantara menjadi sorotan utama. Maskapai BUMN yang direncanakan digabung ke Garuda ini kini berada di persimpangan jalan: akankah ia menjadi bagian dari kebangkitan, atau justru ikut tenggelam dalam kebijakan penutupan massal?

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara terus melakukan perampingan besar-besaran terhadap Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Kebijakan ini menyasar perusahaan-perusahaan pelat merah yang terus merugi dan dianggap tidak produktif. Hingga akhir Agustus 2026, tercatat sudah 290 BUMN yang ditutup, dan diperkirakan masih ada 750 hingga 800 BUMN lain yang akan menyusul hingga akhir tahun.

Di tengah kebijakan penutupan massal tersebut, nasib maskapai BUMN menjadi sorotan utama. PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, yang selama puluhan tahun merugi, kini mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Di sisi lain, anak usahanya, Citilink, justru telah mencatatkan kinerja positif. Lantas, bagaimana dengan Pelita Air yang direncanakan akan digabung ke dalam Garuda? Akankah ia menjadi bagian dari kebangkitan, atau justru ikut tenggelam?

Presiden Prabowo Subianto secara terbuka mengungkapkan keterkejutannya saat mengetahui jumlah BUMN di Indonesia mencapai sekitar 1.077 perusahaan. Ia menilai banyak di antaranya tidak efisien dan hanya menjadi beban keuangan negara.

“Kita sudah tutup 290 BUMN yang tidak beres, sudah kita tutup. … Saya tidak pernah tahu bahwa BUMN kita begitu banyak.”

Kebijakan penutupan ini bukan tanpa alasan. Setiap BUMN yang ditutup, terutama yang merugi dan tidak efisien, dianggap menyedot anggaran negara yang seharusnya bisa digunakan untuk kepentingan publik. Dengan menutup BUMN yang tidak produktif, pemerintah mengklaim telah menghemat biaya operasional hingga mencapai Rp50 triliun. Target penghematan hingga akhir 2026 bahkan ditetapkan mencapai Rp70 hingga Rp80 triliun.

COO Danantara merinci bahwa penghematan tersebut berasal dari berkurangnya biaya overhead seperti gaji direksi, komisaris, sewa gedung, serta biaya operasional lainnya. Danantara, sebagai lembaga pengelola investasi, diproyeksikan menjadi salah satu sovereign wealth fund terbesar di dunia yang mampu mendanai proyek-proyek strategis tanpa harus bergantung pada utang luar negeri.

Garuda Indonesia: Dari Puluhan Tahun Merugi Menuju Target Untung

PT Garuda Indonesia, sebagai maskapai penerbangan nasional, telah menjadi salah satu fokus utama restrukturisasi Danantara. Maskapai ini sebelumnya mencatatkan kerugian yang sangat besar, mencapai US$322,4 juta (Rp5,45 triliun) pada tahun 2025, akibat banyaknya pesawat yang grounded dan biaya sewa yang tinggi.

Untuk menyelamatkan Garuda, Danantara menggelontorkan dana segar sebesar Rp23,67 triliun pada akhir 2025. Dari jumlah tersebut, Rp8,7 triliun (37%) digunakan untuk modal kerja seperti pemeliharaan pesawat, sementara Rp14,9 triliun (63%) dialokasikan untuk memperkuat operasional Citilink, termasuk pelunasan utang bahan bakar kepada Pertamina.

Hasilnya mulai terlihat pada tahun 2026. Presiden Prabowo menargetkan Garuda akan mulai meraih keuntungan pada Agustus 2026. Meski pada kuartal I/2026 Garuda masih mencatatkan rugi bersih US$41,62 juta atau sekitar Rp707,5 miliar, angka ini menunjukkan penurunan kerugian sebesar 45,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sinyal pemulihan ini dianggap sebagai indikasi bahwa intervensi Danantara mulai membuahkan hasil.

Citilink: Anak Usaha yang Justru Bersinar di Tengah Badai

Di tengah upaya pemulihan Garuda yang masih berlangsung, anak usahanya, Citilink, justru mencatatkan kinerja yang cemerlang. Maskapai berbiaya rendah ini dipastikan telah mencatatkan hasil keuangan positif pada kuartal I tahun 2026.

Keberhasilan Citilink tidak lepas dari berbagai langkah strategis yang diambil. Salah satunya adalah debt-to-equity swap, yaitu mengubah utang Citilink kepada Pertamina menjadi kepemilikan saham, yang membuat struktur permodalan menjadi lebih sehat. Citilink juga mencatatkan rekor jumlah penumpang harian tertinggi pada 29 Maret 2026.

Kinerja positif Citilink ini menjadi angin segar bagi Grup Garuda. COO Danantara Dony Oskaria bahkan menyebut bahwa keberhasilan Citilink merupakan “indikator awal pemulihan” bagi Garuda Indonesia secara keseluruhan.

Maskapai Pelita Air, take Of di runway Cgk. PosNusantara,com

Nasib Pelita Air: Di Antara Merger dan Harapan

Di tengah kebijakan penutupan BUMN yang merugi dan upaya pemulihan Garuda, muncul pertanyaan besar: bagaimana nasib Pelita Air?

Pelita Air, yang merupakan anak usaha PT Pertamina (Persero), direncanakan untuk digabungkan ke dalam Garuda Indonesia. Rencana ini merupakan bagian dari strategi Danantara dan BP BUMN untuk menjadikan Garuda sebagai holding maskapai BUMN.

Status Merger: Masih dalam Tahap Kajian

Meski rencana merger telah diumumkan pada Juli 2026, hingga saat ini proses tersebut masih dalam tahap kajian dan pembahasan. Manajemen Garuda menyatakan bahwa mereka masih mengkaji dampak merger terhadap kegiatan operasional dan kinerja keuangan. Belum ada keputusan final mengenai waktu efektif pelaksanaan aksi korporasi tersebut.

Maskapai Citylink posisi di Apron terminal 1 Cgk : PosNusantara.com

Potensi Nasib Pelita Air: Antara Diselamatkan atau Ditutup

Melihat kebijakan Danantara yang tegas terhadap BUMN merugi, nasib Pelita Air akan sangat bergantung pada hasil kajian merger. Ada beberapa skenario yang mungkin terjadi:

  1. Bergabung ke Garuda dan Ikut Bangkit: Jika merger terealisasi, Pelita Air akan menjadi bagian dari Grup Garuda. Dengan suntikan modal dan sinergi operasional, Pelita Air berpotensi ikut merasakan pemulihan yang sedang dialami Garuda.

  2. Tetap Bertahan sebagai Entitas Tersendiri: Jika merger batal atau tertunda, Pelita Air harus mampu menunjukkan kinerja keuangan yang sehat untuk terhindar dari kebijakan penutupan.

  3. Diintegrasikan ke dalam Citilink: Ada kemungkinan Pelita Air tidak digabung langsung ke Garuda, melainkan diintegrasikan ke Citilink untuk memperkuat segmen LCC (Low-Cost Carrier) Garuda Group.

Analisis: Holding Maskapai BUMN dan Tantangan ke Depan

Rencana pembentukan holding maskapai BUMN dengan Garuda sebagai induknya adalah langkah strategis untuk menciptakan ekosistem penerbangan nasional yang lebih kuat dan kompetitif. Namun, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi:

  1. Integrasi Operasional: Menggabungkan dua maskapai dengan budaya dan sistem operasional yang berbeda bukanlah pekerjaan mudah.

  2. Efisiensi Biaya: Holding harus mampu menciptakan efisiensi biaya yang signifikan, terutama di tengah persaingan ketat dengan maskapai asing.

  3. Peningkatan Layanan: Danantara dan BP BUMN telah mendorong Garuda untuk meningkatkan layanan di semua tahap, dari pre-flight hingga post-flight. Ini menjadi kunci untuk memenangkan hati pelanggan.

  4. Kepatuhan terhadap Target Perampingan: Presiden Prabowo menargetkan jumlah BUMN hanya tersisa 200-350 perusahaan pada akhir 2026. Ini berarti setiap entitas, termasuk Pelita Air, harus benar-benar produktif dan menguntungkan untuk bisa bertahan.

Kebijakan perampingan BUMN yang digalakkan Danantara di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto telah membawa angin perubahan besar bagi perusahaan-perusahaan pelat merah di Indonesia. Garuda Indonesia, yang selama puluhan tahun merugi, mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan berkat suntikan modal dan transformasi bisnis. Citilink, anak usahanya, bahkan telah mencatatkan kinerja positif.

Sementara itu, nasib Pelita Air masih menggantung di antara rencana merger dengan Garuda dan kebijakan tegas Danantara yang hanya akan mempertahankan BUMN produktif. Jika merger terealisasi dan berhasil, Pelita Air berpotensi menjadi bagian dari kebangkitan industri penerbangan nasional. Namun, jika tidak, ia bisa menjadi salah satu dari ratusan BUMN yang harus ditutup karena dianggap tidak efisien.

Yang jelas, transformasi besar-besaran ini adalah bagian dari upaya pemerintah untuk menciptakan BUMN yang sehat, efisien, dan mampu memberikan nilai tambah bagi rakyat Indonesia.

📝 PosNusantara.com — Cepat · Akurat · Terpercaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *