Senator Jon Ossoff mengguncang Menteri Perang AS Pete Hegseth dalam sidang Senat. Simak pertarungan sengit, skandal promosi perwira, dan biaya perang Iran yang membebani Amerika.
PosNusantara.com – Sebuah drama politik memanas di Capitol Hill, Washington DC. Senator Jon Ossoff (D-Ga.) dan Menteri Pertahanan AS (yang dalam konteks ini disebut sebagai “Menteri Perang”) Pete Hegseth terlibat dalam konfrontasi sengit di hadapan publik Amerika. Pertarungan ini bukan sekadar adu argumen, tetapi menjadi simbol pertarungan antara pengawasan kongres dan kebijakan perang kontroversial di era Donald Trump.
Latar Belakang: Siapa Jon Ossoff dan Pete Hegseth?
Jon Ossoff adalah Senator Demokrat dari Georgia yang menjabat sejak 2021. Sebelum menjadi senator, ia dikenal sebagai jurnalis investigasi dan produser dokumenter. Ossoff, yang saat ini berusia 39 tahun, merupakan salah satu senator termuda di Amerika Serikat dan dikenal sebagai pengkritik vokal kebijakan luar negeri Trump, khususnya terkait perang di Iran.
Pete Hegseth adalah Menteri Pertahanan AS yang diangkat oleh Presiden Trump. Sebelum menjabat, ia dikenal sebagai pembawa acara Fox News dan veteran militer. Hegseth menjadi figur kontroversial karena kebijakan-kebijakannya yang dianggap sepihak dan kurang transparan.
Pertarungan keduanya mencapai puncaknya pada sidang Senat yang berlangsung pada 21 Juli 2026, di mana Ossoff mengguncang Hegseth dengan pertanyaan-pertanyaan tajam yang membuat menteri pertahanan tersebut “tergagap-gagap” dan kesulitan menjawab.
3 Menit yang Mengguncang Pentagon
Pada sidang Komite Alokasi Senat, Ossoff menggunakan taktik jitu yang membuat Hegseth terpojok. Ia mengutip pernyataan-pernyataan Hegseth sendiri di masa lalu dan mempertanyakan konsistensinya.
Babak 1: Pertanyaan tentang Pernyataan “Iran Hancur”
Ossoff mengawali dengan pertanyaan sederhana namun mematikan:
“Pada hari ke-14 konflik ini, Tuan Menteri—hampir lima bulan lalu—Anda menyatakan bahwa militer Iran telah ‘dihancurkan’ dan ‘dibuat tidak efektif secara tempur.’ Apakah itu pernyataan yang akurat?”
Hegseth mencoba menjelaskan bahwa Iran tidak lagi memiliki angkatan laut, angkatan udara, atau basis industri pertahanan. Namun Ossoff terus menekan dengan pertanyaan yang sama berulang kali.
Babak 2: Pertanyaan “Ya atau Tidak”
Ossoff terus menginterupsi setiap kali Hegseth berusaha mengelak:
“Tuan Menteri, Anda menyatakan bahwa pada hari ke-14 konflik ini, di minggu kedua konflik, Anda menyatakan bahwa militer Iran telah ‘dihancurkan’ dan ‘dibuat tidak efektif secara tempur.’ Apakah itu pernyataan yang akurat, ya atau tidak?”
Hegseth mencoba berbicara tentang “kemampuan Iran untuk menantang Amerika Serikat,” tetapi Ossoff memotongnya dengan tegas: “Itu bukan yang saya tanyakan, Tuan Menteri.”
Babak 3: Klaim Kemenangan yang Gagal
Ossoff kemudian mengutip pernyataan Hegseth tentang “kemenangan besar”:
“Tiga minggu kemudian Anda mendeklarasikan kemenangan. Anda mengatakan bahwa militer Iran telah dibuat ‘tidak efektif secara tempur selama bertahun-tahun yang akan datang.’ Dan Anda menyatakan kami telah ‘mencapai setiap tujuan.’ Apakah itu pernyataan yang akurat?”
Hegseth bersikukuh bahwa itu adalah “kemenangan militer bersejarah,” tetapi Ossoff terus menekan: “Apakah militer Iran telah dibuat tidak efektif secara tempur selama empat bulan terakhir?”
Sidang berakhir tanpa Hegseth memberikan jawaban langsung. Media menyebut momen ini sebagai “penghinaan publik” terhadap Menteri Perang.

Isu Lain: Skandal Penolakan Promosi Perwira
Konflik Ossoff-Hegseth tidak hanya tentang perang Iran. Pada 7 Juli 2026, Ossoff memimpin penyelidikan atas laporan bahwa Hegseth menolak promosi perwira militer karena alasan politik.
Hegseth dilaporkan memblokir promosi delapan kapten Angkatan Laut menjadi laksamana bintang satu, termasuk dua perwira perempuan dan dua perwira kulit hitam—langkah yang memicu kemarahan di kalangan militer.
Ossoff dan enam senator Demokrat lainnya menulis surat kepada Hegseth:
“Tindakan ini menimbulkan kekhawatiran mengenai kriteria, proses, dan wewenang yang digunakan untuk membuat perubahan pada rekomendasi promosi setelah proses dewan promosi militer yang sangat diatur selesai.”
Mereka juga memperingatkan bahwa keputusan Hegseth dapat mempengaruhi moral di semua jajaran perwira.
Dampak Politik: Ossoff Naik Daun, Hegseth Terpojok
Konfrontasi ini meningkatkan profil Ossoff secara nasional. Video pertanyaannya yang viral telah ditonton lebih dari satu juta kali. Para pengamat politik menilai bahwa momen ini menjadi pusat strategi kampanye ulang tahunnya.
Di sisi lain, Hegseth terus mendapat tekanan. Senator Gary Peters (D-Mich.) bahkan menyebut Hegseth sebagai “kegagalan” karena tidak memiliki strategi untuk mengakhiri perang.
“Anda, Pak, adalah kegagalan. Bukan para pria dan wanita yang berada di garis depan… Jika tidak ada strategi kemenangan, mereka berada dalam bahaya. Pemimpin mereka telah gagal.”
Biaya Perang yang Membebani
Di balik konfrontasi ini, ada fakta mengejutkan: perang dengan Iran telah menghabiskan biaya USD 37,5 miliar (sekitar Rp 600 triliun). Hegseth meminta tambahan USD 67 miliar untuk dana darurat dan USD 454 miliar untuk anggaran militer 2027.
Sementara itu, 18 tentara AS telah tewas sejak perang dimulai pada akhir Februari 2026, termasuk dua yang tewas dalam serangan Iran di Yordania pada 17 Juli 2026.
Apa Selanjutnya?
Senat dijadwalkan mempertimbangkan resolusi kekuasaan perang pada akhir pekan ini. Ossoff dan sekutunya kemungkinan akan terus menekan administrasi Trump untuk transparansi dan akuntabilitas.
Satu hal yang pasti: pertarungan antara senator muda dari Georgia dan Menteri Perang yang kontroversial ini akan terus menjadi sorotan publik Amerika, dan mungkin akan menentukan arah kebijakan luar negeri AS di tahun-tahun mendatang.
📝 PosNusantara.com — Cepat · Akurat · Terpercaya















