YOGYAKARTA, PosNusantara.com – Di Jalan Nyi Ageng Nis No. 9, Kotagede, sebuah bangunan kayu tua berdiri dengan kokoh. Dari luar, ia tampak seperti rumah joglo tempo dulu. Namun, begitu melangkah masuk, pengunjung akan disambut oleh lorong kayu yang berliku, ukiran-ukiran klasik, dan nuansa masa lalu yang begitu kental. Inilah Bakmi Jowo Mbah Gito, sebuah warung makan yang bukan hanya menawarkan kelezatan mi rebus, tetapi juga sebuah pengalaman seni dan budaya yang utuh.
🎨 Filosofi “Jowo Ndeso Kluthuk”: Seni dari Bahan Bekas
Setiap sudut ruangan di warung ini dihiasi oleh ornamen kayu. Kayu-kayu itu bukan sembarang kayu. Mbah Gito, sapaan akrab pemiliknya, Sugito, dengan sengaja menggunakan material bekas, termasuk kayu dari kandang sapi miliknya sendiri yang berasal dari Gunungkidul.
“Kayu-kayu itu saya manfaatkan supaya tidak jadi sampah semata, dan banyak kayu ini bekas kandang sapi saya dari Gunungkidul sana,” jelas Gito.
Konsep ini adalah perwujudan dari filosofi “Jowo Ndeso Kluthuk” —Jawa yang sangat pedesaan. Bukan hanya untuk estetika, ini adalah upaya pelestarian budaya dan lingkungan, di mana barang-barang yang nyaris menjadi sampah disulap menjadi elemen seni yang sarat makna.

🏠 Menelusuri Lorong Waktu di Setiap Sudut
Memasuki Bakmi Jowo Mbah Gito seperti berjalan ke masa lalu. Interiornya didominasi oleh kayu, mulai dari tiang penyangga hingga meja dan kursi. Kayu-kayu bekas pohon diletakkan di sela-sela meja makan sebagai dekorasi.
Di sudut ruangan, deretan wayang kulit tertata rapi seolah siap dipentaskan kapan saja. Sebuah gong besar menghiasi dinding, dan tulisan aksara Jawa menghiasi berbagai sudut. Patung-patung kayu khas Jawa dan ukiran-ukiran unik menambah kesan estetik di setiap sudut.
Saat malam-malam tertentu, pengunjung bahkan bisa menikmati pertunjukan wayang sambil menyantap mi hangat. Pengalaman kuliner pun bertransformasi menjadi pertunjukan seni budaya yang utuh.
👘 Suasana yang Hidup: Lebih dari Sekadar Dekorasi
Seni di Mbah Gito tidak berhenti pada benda mati. Para pramusaji mengenakan pakaian adat Jawa lurik, menambah kesan autentik. Alunan lagu-lagu Jawa yang diputar di latar belakang semakin menghidupkan suasana.
“Dari meja dan kursi kayu dan beberapa ornamen lain seperti jam dinding, wayang, tulisan aksara membuat kita mengingat kembali di masa lalu khas tradisional Indonesia,” tulis sebuah ulasan.
Pengunjung yang datang bukan hanya untuk makan, tetapi juga untuk merasakan nostalgia dan mengabadikan momen di spot-spot foto unik.
🍜 Rasa yang Tak Lekang oleh Waktu
Di balik keindahan estetikanya, cita rasa tetap menjadi jiwa. Bakmi godog, menu andalan, dimasak satu per satu menggunakan anglo (tungku arang) tradisional, menghasilkan aroma smoky yang khas. Mi kuning tebal disajikan dengan kuah gurih, suwiran ayam kampung, telur bebek, dan sayuran.
📌 Informasi Praktis
-
Alamat: Jl. Nyi Ageng Nis No.9, Rejowinangun, Kotagede, Yogyakarta
-
Jam Buka: Setiap hari, 11.00 – 21.30 WIB
-
Kisaran Harga: Rp20.000 – Rp40.000 per porsi
📝 PosNusantara.com — Cepat · Akurat · Terpercaya
Pawon Tempuran Jogja: Sensasi Rahang Tuna Bakar Viral yang Bikin Wisatawan Rela Antre












