PALANGKARAYA, PosNusantara.com – Di tengah darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Indonesia, terutama Kalimantan dan Sumatra, ada satu kelompok yang tak pernah lelah berada di garis terdepan: para petugas pemadam karhutla. Mereka adalah Manggala Agni, personel TNI-Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemadam kebakaran (Damkar), relawan Masyarakat Peduli Api (MPA), hingga masyarakat sipil yang turun tangan. Di balik keberhasilan menekan ribuan titik api, tersimpan kisah perjuangan, pengorbanan, dan tantangan berat yang mereka hadapi setiap hari.
PosNusantara.com menyajikan liputan khusus untuk mengapresiasi para pahlawan tanpa tanda jasa yang berjuang memadamkan karhutla 2026.
🔥 Skala Darurat Karhutla 2026: Ribuan Titik Api di Sejumlah Provinsi
Musim kemarau 2026 membawa bencana karhutla yang meluas. Di Kalimantan Barat, jumlah titik api sempat melonjak hingga lebih dari 2.000 titik. Di Kalimantan Selatan, terdeteksi 44 titik panas yang tersebar di empat wilayah pada akhir Agustus 2026. Secara nasional, BNPB mencatat 1.487 titik panas di Kalimantan, dengan Kalimantan Tengah menjadi wilayah terbanyak.
Luas lahan yang terbakar pun mencapai angka fantastis. Di Kalimantan Barat saja, sejak awal tahun hingga Juni 2026, lahan terbakar mencapai 38.310,89 hektare. Di areal pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) Kalimantan Selatan, luas karhutla mencapai 502,89 hektare sepanjang Januari-Juli 2026.
Di tengah skala darurat ini, para petugas pemadam karhutla dikerahkan dalam jumlah besar. 4.138 personel dikerahkan di Kalimantan Barat, sementara lebih dari 2.700 personel dari berbagai unsur diturunkan di lapangan. Tambahan 1.200 personel TNI juga dikerahkan untuk mendukung percepatan penanganan.
🛡️ Manggala Agni: Tiga Minggu di Garis Depan Kalimantan Barat
Manggala Agni, satuan khusus pemadam karhutla di bawah Kementerian Kehutanan, menjadi ujung tombak operasi pengendalian kebakaran. Di Kalimantan Barat, 65 personel Manggala Agni Daops Pontianak telah menjalani operasi pengendalian karhutla hampir tiga minggu lamanya. Mereka diperkuat oleh 15 personel Bantuan Kendali Operasi (BKO) dari Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sulawesi.
Direktur Pendayagunaan Sumber Daya dan Pengamanan Hutan Kementerian Kehutanan, Suharyono, mengungkapkan betapa beratnya tugas yang diemban para pejuang ini. “Operasi sudah berjalan hampir tiga minggu. Kita harus memastikan personel yang berada di garis depan tetap sehat dan dapat bekerja dengan aman. Mereka menghadapi panas, asap, kelelahan dan kondisi lapangan yang tidak ringan,” ujarnya.
Sepanjang 2026, Manggala Agni bersama pihak terkait di Kalimantan Selatan telah melaksanakan 107 operasi pemadaman dengan total luas area yang ditangani mencapai 321,05 hektare.

🚁 Water Bombing dari Udara: 41,8 Juta Liter Air Dikerahkan
Untuk menjangkau titik api di wilayah yang sulit diakses, operasi udara melalui helikopter water bombing menjadi andalan. Di Kalimantan Selatan, BNPB mengoperasikan empat helikopter water bombing yang telah melakukan 243 kali bom air dengan total satu juta liter lebih air yang dijatuhkan.
Di Riau, lima helikopter water bombing dikerahkan dan telah mengguyurkan 41,8 juta liter air untuk pemadaman dan pembasahan lahan. Sementara di Kalimantan Barat, armada water bombing ditambah dari 4 menjadi 10 unit setelah mendapat tambahan enam armada dari arahan Presiden Prabowo Subianto.
Biaya operasionalnya pun tidak murah—satu helikopter water bombing menghabiskan biaya hingga Rp100 juta per jam. Namun, bagi para petugas di lapangan, setiap tetes air yang dijatuhkan dari udara adalah harapan untuk memadamkan api yang mengancam.
🌧️ Operasi Modifikasi Cuaca: Memancing Hujan dengan 2 Ton Garam
Selain water bombing, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menjadi senjata lain untuk memadamkan karhutla. BNPB mengerahkan pesawat Cassa TNI AU untuk menebar 2 ton natrium klorida (NaCl) ke awan yang berpotensi menghasilkan hujan di Kalimantan Barat.
Penyemaian bahan semai dilakukan di wilayah Bengkayang, Landak, dan Sanggau, dengan target memperbesar potensi turunnya hujan. “Dengan hujan, penanganan karhutla akan sangat efektif untuk memadamkan titik api dan titik panas,” tulis BNPB dalam keterangannya.
Jumlah pesawat OMC pun ditambah dari 4 menjadi 10 unit untuk mempercepat proses pemadaman, terutama di kawasan lahan gambut yang sulit dipadamkan hanya dengan penanganan darat.
⛰️ Tantangan di Lapangan: Medan Sulit, Minim Akses, dan Asap
Perjuangan para petugas pemadam karhutla tidak pernah mudah. Di Toraja Utara, Kepala Bidang Damkar Semuel Rasinan mengungkapkan bahwa medan sulit dan minimnya akses jalan menjadi kendala utama. Kebakaran lahan di Kondongan, Ba’lele, Kecamatan Rantepao, meski hanya menghanguskan lahan kurang dari satu hektare, proses pemadamannya berlangsung cukup lama karena titik api tersebar di sejumlah lokasi.
“Lahannya tidak sampai satu hektare, tetapi medannya sulit. Kami harus mencari titik-titik api yang masih muncul lalu memadamkannya satu per satu,” kata Semuel. Petugas bahkan harus menggunakan tangki karhutla yang dipikul sambil menyemprotkan air ke titik api karena kendaraan tidak bisa menjangkau lokasi.
Di Muaro Jambi, upaya pemadaman malam hari sempat terkendala minimnya penerangan, namun petugas dapat mengendalikan api dengan ekstra waspada.
🔥 Kerja Tanpa Lelah: Dari Pemadaman Hingga Pendinginan Lahan Gambut
Api yang terlihat padam belum berarti selesai. Di lahan gambut, api dapat bertahan di bawah permukaan sehingga pendinginan dan pemadaman lanjutan tetap diperlukan meski api terlihat padam. Petugas di lapangan masih harus melakukan pemadaman sekaligus pendinginan secara menyeluruh untuk memastikan bara api tidak kembali membesar.
Di Muaro Jambi, proses pemadaman lahan seluas 10 hektare memakan waktu tiga jam hingga pendinginan dapat dilakukan. Di Kalimantan Barat, personel gabungan terus melakukan patroli siaga untuk menemukan dan memadamkan titik api baru.
Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan memuji kerja keras para petugas yang berhasil menurunkan titik api dari lebih dari 2.000 menjadi hanya 28 titik. “Dengan penanganan yang melibatkan 4.138 personel, alhamdulillah sekarang tinggal 28 titik api,” ujarnya.
💔 Pengorbanan Para Pejuang Karhutla
Di balik setiap keberhasilan pemadaman, ada pengorbanan yang tak terhitung. Personel Manggala Agni berhadapan dengan panas, paparan asap, kelelahan, dan kondisi lapangan yang tidak ringan selama menjalankan pemadaman, pendinginan, serta patroli.
Di Padangsidimpuan, 3 petugas Damkar mengalami luka-luka saat menjalankan tugas pemadaman kebakaran rumah—dua personel mengalami luka ringan dan satu personel terkena korsleting listrik.
Di Polewali Mandar, seorang lansia berusia 80 tahun tewas terjebak kepungan api saat berupaya memadamkan kobaran api yang membakar lahan miliknya secara mandiri. Tragedi ini menjadi pengingat bahwa risiko besar selalu mengintai siapa pun yang berhadapan langsung dengan api.
🏥 Dukungan Pemerintah: Perhatian pada Kesehatan dan Kesejahteraan Petugas
Menyadari beratnya tugas yang diemban para petugas, Kementerian Kehutanan memberikan perhatian serius pada kesehatan dan kesejahteraan mereka. Tim medis dari Klinik Pratama Manggala Wanabakti melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap personel yang meliputi tekanan darah, kondisi pernapasan, serta konsultasi medis.
Kementerian juga menyerahkan multivitamin, nutrisi tambahan, dan oksigen portabel sebagai bagian dari dukungan kesehatan selama operasi berlangsung. “Dukungan kepada Manggala Agni bukan hanya soal peralatan pemadaman dan logistik operasi, tetapi juga kesehatan, nutrisi, pemulihan kondisi fisik dan keselamatan personel,” tegas Suharyono.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni juga turun langsung meninjau lokasi karhutla di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat, memastikan penanganan berjalan optimal. Presiden Prabowo Subianto bahkan memerintahkan penambahan helikopter water bombing dan alat berat untuk mempercepat pemadaman.
Para pejuang karhutla 2026 adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang berjuang di garis depan melawan api, asap, dan kelelahan. Mereka adalah Manggala Agni yang bertahan tiga minggu di Kalimantan Barat, personel TNI-Polri yang siaga 24 jam, petugas Damkar yang memikul tangki air di medan sulit, serta relawan dan masyarakat yang turun tangan menyelamatkan lingkungan.
Keberhasilan menekan ribuan titik api—dari 2.000 menjadi 28 di Kalimantan Barat—adalah bukti nyata dari dedikasi dan kerja keras mereka. Namun, perjuangan belum usai. Lahan gambut masih menyimpan bara, dan musim kemarau masih akan berlanjut.
Sudah saatnya kita semua memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para pejuang karhutla. Mereka bukan sekadar petugas pemadam—mereka adalah penjaga bumi yang rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan nyawa demi menyelamatkan hutan dan masyarakat dari bencana asap dan api.
📝 PosNusantara.com — Cepat · Akurat · Terpercaya












